Wafatnya Politisi Tua




Cerpen Hafis Azhari

Seusai menandatangani kontrak terakhir dengan seorang pengusaha Cina, Haji Husen Hafidudin menghempaskan badannya yang kurus di kursi sofa. Transaksi kali ini cukup tinggi nilainya, hingga membuatnya tersenyum merekah. Beberapa hari lalu ia pun merasa beruntung telah menjual persediaan besi-besi tua kepada perusahaan logistik dengan keuntungan berlipat-lipat. Kini ia merasa selamat dari dugaan-dugaan negatif akibat krisis moneter berkepanjangan yang menggelisahkan dirinya. Ia pun sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa di tahun depan ia akan bertarung kembali dalam persaingan politik untuk menduduki kursi DPR Pusat.
Namun yang menjadi persoalannya adalah kesehatan yang belum pulih untuk bersaing secara terbuka, hingga terkadang merasa kesal dan mengutuk dirinya sendiri: “Buat apa kekayaan dan kedudukan tinggi di kursi politik, sementara kesehatanku hancur dan hidupku menderita seperti ini.”
Memang yang masih tersisa pada Haji Husen di usinya yang menginjak 65-an adalah tubuhnya yang kurus dan kerempeng. Tapi yang tidak kalah gawat adalah saraf otaknya yang seakan sudah menjanjikan kematian. Bila ia sedang duduk-duduk menyendiri di serambi rumahnya, terus-menerus ia dihantui oleh pikiran-pikiran tentang mati. Ya, persoalan mati itulah yang begitu banyak menyita waktunya sehari-hari. Suara mobil sirine yang terdengar dari kejauhan pun membuat otot-ototnya menegang dan jantungnya berdebar-debar.
Urat sarafnya yang begitu keras menyiksanya, membuatnya lupa tentang segala arti iman dan kasih sayang Tuhan. Yang dipikirkannya hanyalah tentang kapan ajal itu akan menjemputnya. Ia terkenang peristiwa yang sudah-sudah dan pernah menimpa beberapa kerabatnya yang juga terjun ke dunia politik. Di masa tuanya mereka berbaring dalam kesakitan, dada yang naik-turun, mendengkur terputus-putus serta biji mata yang guram. Di tengah peristiwa itulah nyawa direnggut dan roh pun lepas meninggalkan jasad. Seperti itukah yang akan terjadi pada dirinya? Sedangkan hanya kuku saja yang dicabut, orang bisa merasakan sakit setengah mati, lalu bagaimana kalau roh atau nyawanya yang akan dicabut?
Sudah lama ia berharap sekiranya Allah memasukkannya ke dalam golongan orang yang beruntung, misalnya mati mendadak saat melaksanakan solat. Beruntung sekali orang yang jantungnya berhenti seketika dalam keadaan ruku maupun sujud, seakan maut itu bisa mengatur dirinya lantas masuk di saat-saat lengah, hingga diam-diam menyusup dan mengantarkannya ke pintu gerbang keabadian.
Tetapi dia merasa kurang yakin dengan pemikiran semacam itu, karena bapaknya dulu, dan sebelum itu pun seorang pemimpin partai yang dikaguminya, tetap dijadikan ukuran penting ketika orang-orang menghadapi maut. Kemudian kematian seperti itu dirasakan oleh hatinya yang sudah kacau bahwa dia pun pasti akan mengalami sekarat yang lebih parah lagi.
Cukup lama Haji Husen mengandai-andai perihal kematian, bahkan berfilsafat menurut caranya sendiri tentang apa yang terjadi sesudah orang itu mati. Pada keadaaan seperti itu seringkali dadanya terasa sesak, detak jantungnya tersendat-sendat, badannya dingin dan mukanya basah bermandi keringat. Dia berpikir tentang apakah yang terjadi nanti: kebangkitan, reinkarnasi, perhitungan dan azab Allah? Waduh, alangkah jauh (dalam pikirannya) jarak antara kematian dengan surga itu!
Ia masih teringat peristiwa beberapa tahun lalu, ketika ia turut-serta menerima suap, lantas merancang peraturan daerah yang membolehkan adanya penambangan pasir, hingga terjadilah bentrokan antara pihak aparat dan masyarakat yang tidak menghendaki sarana dan infrastruktur jadi rusak akibat maraknya truk-truk liar yang mengangkuti pasir tersebut. Dalam insiden itu, dua orang mati tertembak dan tujuh lainnya luka berat dan dilarikan ke rumah sakit. Lantas bagaimana dengan keluarga dan saudara mereka yang masih menuntut hak? Bagaimana dengan istri dan anak-anak mereka yang semakin tumbuh menjadi generasi-generasi baru negeri ini? Waduh celaka, alangkah berat pertanggungjawaban dirinya di akhirat nanti…!
***
Saat ini ia terus berobat jalan secara rutin seminggu sekali. Dokter tak pernah memberitahukan apakah ia akan sembuh dari penyakit komplikasi yang mengakibatkan kejang jantung itu, tetapi hanya menasehati agar ia hidup berhati-hati dan sederhana. Berkali-kali ia mengeluh kepada dokter langganannya bahwa ia susah tidur dan pikirannya kacau-balau. Sang dokter menganjurkannya agar ia pergi ke dokter spesialis saraf. Hingga sejak saat itu ia pun mondar-mandir mendatangi dokter-dokter spesialis: saraf, jantung, dada, kepala dan seterusnya.
Dan anehnya, orang yang dulunya tak mau percaya kepada ilmu kedokteran, bahkan tak pernah percaya kepada dokter itu sendiri, setelah sekarang dilanda kegelisahan dan kecemasan, tiba-tiba berbalik seratus delapan puluh derajat. Barangkali jalan pikirannya yang berubah-ubah itu pun termasuk bagian dari gejala-gejala yang menimbulkan sarafnya terganggu. Ketakutannya pada suatu yang akan terjadi hampir merenggut nyawanya, hingga ia pun terus-menerus bertempur melawan pikirannya sendiri.
Tetapi ketika ia dapat kesempatan meluangkan waktunya untuk berbagi, justru dimanfaatkannya untuk bertempur melawan orang lain, seakan-akan semua orang adalah musuh bebuyutan yang selalu mengincar dan merngusik ketentraman hidupanya. Beberapa pengurus partai yang menjadi bawahannya menyadari bahwa atasannya itu sudah menjadi orang yang lain sama sekali. Bahkan wakilnya sendiri sudah angkat-kaki dari partai tersebut lantas berhijrah ke partai lain, setelah sembilan tahun lebih ia mendampingi sang majikan.
Kemudian istrinya sendiri pun tak lepas dari sasaran pelampiasan amarahnya. Ia menuduh istrinya itu telah membuat amalan-amalan dengan mengirim kembang tujuh rupa di makam Sultan Hasanuddin Banten, agar membuat suaminya lemah tak berdaya. Segala kecurigaannya kepada siapapun dapat berubah menjadi suatu keyakinan. Ia berang dan mencaci-maki istrinya, meski sang istri berusaha diam dan bersikap sabar.
***
Segala perlakuan suaminya itu kemudian diceritakan kepada anak-anaknya, dan mereka pun turut prihatin. Suatu kali mereka datang dan berkumpul di rumah orang tuanya. Mereka mengusulkan, untuk menjaga kesehatan bapaknya agar ia bisa istirahat, sebaiknya rumah besar yang dijadikan kantor DPW di pusat kota itu dijual saja, meski dengan harga murah. Tetapi sang ayah segera paham apa-apa yang dianggapnya akan menjadi malapetaka baginya, dan akan menguntungkan buat anak-anaknya. Dengan sikap dan kata-kata kasar, mereka dicaci-maki habis-habisan:
“Jangan berunding macam-macam, saya ini belum mati, dan saya masih hidup sampai kapanpun! Badan saya masih kuat untuk melawan siapapun! Mau apa kalian datang ke sini, he? Mau cari perkara? Mau merampas hak saya?”
Dengan tatapan sinis ia pun memandang wajah anak-anaknya dengan penuh curiga. Kemudian sambil menoleh kepada istrinya ia pun berteriak:
“Ibumu ini sudah cerita macam-macam tentang saya ya? Biarin saja, memang dia kelakuannya seperti itu! Dari dulu dia suka ngomong ke sana ngomong ke sini! Dari dulu dia mau mencelakakan saya! Lihat saja nanti, kalau saya sudah sembuh, lebih baik harta saya dipakai untuk hal-hal yang bermanfaat. Saya sudah tahu perempuan yang akan bisa menentramkan hati suaminya, yang mengerti kasih sayang, daripada harta saya dihabiskan untuk orang-orang serakah macam kalian!” 
Suasana semakin tegang, tak berapa lama seorang anak sulungnya yang pernah menolak dicalonkan jadi anggota Dewan, angkat bicara:
“Abah, kami datang dari jauh-jauh mau menengok Abah, mau melihat kesehatan Abah, bukan untuk tujuan yang macam-macam.”
“Sudah diam, kamu semua adalah anak-anak ibumu!”
Semua keluarga undur diri, kemudian berunding kembali di ruang depan. Sang Istri ketakutan pada rencana suaminya untuk menikah lagi, dan boleh jadi akan dilaksanakannya dengan nekat. Anak-anaknya merasa prihatin melihat kelakuan ayahnya. Bahkan ada yang mengusulkan untuk mengambil langkah berjaga-jaga daripada membiarkannya jatuh ke pangkuan wanita yang hanya mau mengincar kekayaannya.
Tapi belum sempat ia mewujudkan rencana dan cita-citanya ke gelanggang politik yang lebih jauh lagi, ia pun harus siap menyambut datangnya ajal yang hanya ada dalam rencana Allah Yang Maha Kuasa. Kejadiannya hanya beberapa menit setelah pertengkaran itu, ketika Haji Husen memaksakan diri melangkah menuju kamar mandi, lantas menolak untuk dipapah oleh salah seorang anaknya. Tiba-tiba dari dalam kamar mandi terdengar bunyi “gedebuk” yang mengagetkan seisi rumah tersebut. Saat itu juga, seluruh keluarganya menyaksikan sang tokoh politik terkapar di kamar mandi, setelah ia terpeleset dan terpelanting jatuh dengan kepalanya yang membentur sisi kolam.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Haji Husen pun wafat dengan meninggalkan seorang istri, enam anak dan delapan cucu, serta beberapa rumah dan lahan tanah yang pada jamannya turut menunjang bagi proses perjalanan partai yang dipimpinnya.

Keesokan harinya muncullah ucapan-ucapan belasungkawa dari para birokrat dan pejabat tinggi di seluruh koran-koran Banten: “Kami turut berduka-cita atas wafatnya Haji Husen Hafidudin yang telah pulang ke rahmatullah dengan damai.” ***

Banjir Di Masjid Banten



Cerpen Hafis Azhari

Aku tak pernah melihat perpaduan mata dan alis yang sebegitu menarik seperti milik Fauziyah. Matanya yang indah memancar bagaikan pelangi sore di ufuk timur. Bulu matanya yang lentik memang bukan polesan kosmetik Amerika, hingga selalu mengiringi sorot matanya yang tajam, sekaligus menyimpan kelembutan hati seorang ibu yang sedang menyusui anaknya. Aku membayangkan puting susunya yang ranum dan segar, sedang dihisap oleh anaknya yang baru menginjak satu tahun.
          Suasana banjir di sekitar mesjid Banten membuat Fauziyah terpaksa menitipkan anak satu-satunya kepada sang ibu. Ia segera mengenakan seragam Gema Nusa Banten, suatu organisasi yang bergerak di  bidang sosial dan kemasyarakatan. Setelah berpamitan dengan ibunya ia pun bergabung bersama teman-teman LSM lainnya. Tak terkecuali aku yang satu rombongan dengannya, meski aku banyak berkiprah di bidang kebudayaan dan penulisan sastra.
          Beberapa setel baju pengganti ditumpuk di atas peralatan-peralatan medis yang dibawanya dalam sebuah tas rangsel. Rambutnya yang indah terurai, dibiarkannya terjepit oleh rangsel yang menggantung di punggungnya. Satuan mobil palang merah sudah mendahului kami menuju alun-alun Rangkasbitung, di mana posko-posko sudah didirikan untuk menampung para korban banjir. Kini giliran rombongan kami yang berjumlah delapan orang, dan siap meluncur menuju mesjid Banten untuk membantu korban-korban di wilayah itu.
          Fauziyah melompat ke dalam mobil yang kukendarai dengan penuh sigap. Entah kenapa, inisiatif untuk membantu korban-korban banjir begitu menyala-nyala dalam diriku, khususnya bila ditemani seorang aktivis LSM secantik Fauziyah. Padahal belum tentu ia pun merasakan hal yang sama dengan aku. Rasa kemanusiaannya untuk membantu orang-orang yang membutuhkan tidak sebanding dengan aku yang sering tergoda oleh kepentingan dan maksud lain, khususnya dalam mencintai seorang janda beranak satu yang telah ditinggal oleh suaminya. Menurut sumber yang dapat dipercaya, kabarnya suami Fauziyah telah menikahi teman sekantornya yang masih ada garis keturunan ningrat, sampai kemudian ia memilih hidup menjanda, dan baru diceraikan oleh mantan suaminya beberapa bulan setelah kelahiran anaknya.
***
Korban pertama yang kami tangani adalah seorang anak berusia empat tahun yang menggigil kedinginan dengan seluruh badannya yang pucat setelah dua hari terjebak di tengah-tengah banjir. Rumahnya yang terkepung oleh banjir segera kami hampiri dengan perahu karet yang kami turunkan dari atas mobil. Di dalam rumah itu masih ada dua orang kakak dan seorang ibunya yang masih meringkuk di sela-sela atap rumah. Bapaknya segera membantu kami untuk menurunkan semua anggota keluarganya, lantas menaikkannya di atas perahu karet.
Sesampainya di tenda, anak berusia empat tahun itu sudah lemah tak berdaya. Tensi darahnya betul-betul drop hingga nyaris mengancam keselamatan nyawanya. Fauziyah melingkarkan selimut di tubuhnya yang terus menggigil kemudian memeluknya erat-erat. Namun anak itu begitu lemah hingga tak sanggup menelan vitamin yang kami minumkan ke mulutnya.
“Bu, tolong peluk anak ini,” Fauziyah memerintahkan pada sang ibu yang sejak tadi diam di hadapan anaknya, kemudian sambungnya seperti menggumam, “Anak ini butuh pelukan hangat dari orang yang menyayanginya.”
Tak berapa lama anak itu perlahan-lahan pulih, kemudian Fauziyah bertanya sambil tersenyum lembut:
“Siapa namanya?”
“Umar,” jawab ibunya singkat.
“Seperti nama sahabat Nabi?”
“Bapaknya yang memberi nama.”
“Mudah-mudahan jadi anak yang kuat dan tangguh seperti Umar bin Khattab.”
***
          Wajahku begitu pucat dan miris bila melihat darah. Tetapi darah itu terus saja mengalir dari korban kelima yang tertimpa reruntuhan rumahnya yang roboh tersapu banjir. Dari kening hingga pelipis matanya darah itu sulit untuk dikendalikan, hingga kami menduga bahwa korban ini memang sudah mengidap suatu penyakit yang berbahaya sebelum banjir itu datang.
          “Jangan bicara soal yang lain. Tugas kita adalah menolong semua korban-korban banjir yang sedang berbaring di tenda ini,” lagi-lagi Fauziyah mengingatkan rombongan kami.
          “Jangan-jangan korban ini dulunya…”
          Belum selesai teman kami bicara, kontan Fauziyah berdiri di hadapannya sambil berujar:
          “Kamu mau bantu koban banjir, atau mau berdebat tentang dosa dan pahala?”
          Aku merasa tersindir mendengar itu, meski kata-kata itu ditujukan kepada salah seorang teman kami. Perlahan-lahan aku mendekati korban yang sedang mengalami pendarahan itu. Keberanianku tak sebanding dengan kepintaran Fauziyah yang dengan sigap menolong semua korban tanpa kecuali. Ia memutuskan untuk membalut kepala seorang korban dengan perban, setelah memborehi obat pada lukanya yang menganga. Ketika kulihat jari-jari tangan Fauziyah yang ramping, segera terbayang dalam pikiranku sesosok bidadari cantik yang tergambar dalam kitab-kitab agamaku.
          Aku tidak tahu, apakah Fauziyah punya kepercayaan dan keimanan yang sama dengan aku, ketika suatu kali kami istirahat di bawah pohon asam sambil berbincang-bincang:
          “Apakah kamu percaya adanya sorga di akhirat nanti?” tanyaku sambil tersenyum.
          Fauziyah tidak menjawab, ia hanya menerawang dan menatap ke atas langit.
          “Apakah kamu percaya adanya pahala dari apa-apa yang kita lakukan ini?” pancingku lagi.
          “Kita harus berbuat apa yang mesti diperbuat, Rahmat,” jawab Fauziyah singkat.
          “Lantas apakah kamu yakin bahwa kebaikan yang kita lakukan akan dibalas dengan kebaikan?”
          Fauziyah tetap membisu, hanya memandang ke arah tenda yang di dalamnya sedang berbaring puluhan korban-korban banjir yang sedang kami tangani.
          “Apakah kamu percaya bahwa Tuhan campur-tangan dalam peristiwa banjir ini?”
          Ia tidak menjawab, kemudian melangkah ke arah tenda untuk mengurusi korban-korban yang datang berikutnya.
***
Beberapa hari kemudian orang-orang berseragam muncul sambil melempar-lemparkan bantuan yang terbungkus di kardus-kardus.  Mobil mereka nampak mewah-mewah, meski dibeli dari hasil keringat rakyat yang membayar pajak setiap tahunnya. Beberapa orang memandang kami dari tanah yang kering di kejauhan sana. Tak berapa lama seorang pesuruh mendekati tenda sambil mencatat jumlah korban di atas secarik kertas.
“Kalian dari rombongan mana?” ia melontarkan pertanyaan pada Fauziyah.
“Kami dari relawan Gema Nusa, Pak.”
“Apa itu Gema Nusa? LSM bodong ya? Sumber dana dari mana?”
Ia menatap Fauziyah dengan tajam, kemudian katanya seperti menginterogasi, “Nama Anda?”
“Fauziyah Nurul.”
“Asal daerah?”
“Cilegon.”
“Agama Anda?”
Fauziyah tidak menjawab. Setelah menyelesaikan beberapa catatan yang diperlukan, orang-orang berseragam itu kembali menuju kantor-kantor mereka.
***
Selama enam hari kami menangani korban-korban banjir di sekitar mesjid agung Banten. Kulihat wajah Fauziyah yang pucat karena kelelahan, meski matanya tetap terlihat sayu dan menawan. Puluhan korban banjir yang ditanganinya mulai dipindahkan di posko-posko palang merah terdekat. Menjelang hari ketujuh hujan deras mengguyur tenda kami. Tubuh Fauziyah mulai menggigil kedinginan, ditambah dengan kelelahan dan kekurangan tidur selama beberapa hari terakhir. Ia mengajak aku untuk menjauhi tenda lantas berlindung di bawah menara Banten.
Tak berapa lama hujan mulai mereda. Fauziyah mengajak aku menaiki tangga-tangga hingga sampailah di puncak menara Banten. Ia berjalan perlahan-lahan mengitari menara, seakan menyaksikan perkampungan dan pesawahan yang beberapa hari itu lumpuh karena terendam banjir.
“Hari ini banjir sudah mulai surut,” ujar Fauziyah dengan mulut bergetar. Nampak sekujur badannya masih menggigil sampai kemudian ia mengangkat wajahnya dan menatapku:
“Peluklah aku, Rahmat,” tiba-tiba ia menawarkan sesuatu.
“Aku tak berani, Fauziyah, kita ini orang beragama.”
“Peluklah aku, darahku bisa beku kalau kamu tidak melakukannya.”
Ia semakin menggigil. Aku menatap matanya yang indah, kemudian memeluknya dan membelai rambutnya.
“Peluklah aku erat-erat, Mat.”

Aku tidak tahu apa yang dirasakan oleh Fauziyah, ketika sore itu aku memeluknya erat-erat di atas menara Banten, hingga perlahan-lahan tubuhnya menghangat setelah seharian ia menggigil kedinginan… ***

Masjid Di Kampung Jombang



Cerpen Hafis Azhari

Tanggul-tanggul yang membatasi aliran sungai ke perkampungan dibiarkan keropos selama puluhan tahun. Pada musim hujan tahun ini, perairan untuk irigasi pesawahan pun rusak, karena pemerintah daerah lebih mengutamakan alokasi dana untuk perhotelan dan tempat-tempat pariwisata.  Demikian halnya dengan Lurah Herman yang tidak mempedulikan jalan-jalan berlubang, bahkan jembatan yang menghubungkan Kampung Jombang dengan Desa Kalitimbang dibiarkan doyong dan tak terawat.
Padahal di sekitar kampung itulah hilir-mudik beragam kehidupan masyarakat, serta padatnya jumlah penduduk, baik yang pribumi maupun non-pribumi. Dari kejauhan nampak rumah tua yang dihuni oleh beberapa wanita tunasusila dari daerah Indramayu, di sebelahnya sebuah warung kopi, kedai cukur dan warung nasi uduk yang tiap pagi dikunjungi para pelanggan dari kalangan pelajar, pegawai pabrik, bahkan ibu-ibu pengajian yang tiap Jumat mengikuti ceramah Ustad Basri di mesjid Al-Mubarok, yang letaknya di dataran tinggi sebelah timur Jombang.
Sekitar pukul sembilan malam, Sinta seorang wanita tunasusila seperti biasa melintasi jembatan reot itu menuju warung remang-remang yang terletak di sebelah barat Kampung Jombang. Pada pagi hari jembatan itu dilintasi pula oleh anak-anak pelajar, para pegawai negeri hingga para pedagang yang menuju pasar kelapa di Kota Cilegon.
“Suatu saat jembatan itu pasti ambruk, biar para pelacur itu kapok,” umpat Lurah Herman di hadapan istrinya.
“Pelacur-pelacur itu kesulitan mencari penghidupan karena krisis moneter di negeri ini yang nggak ada habis-habisnya,” timpal sang istri.
“Tapi untuk apa mereka beroperasi di sekitar kampung kita, kenapa tidak di desa-desa lain saja?”
“Sudahlah Pak, barangkali suatu saat mereka bisa sadar, buktinya mereka masih mau menghadiri pengajian, serta mendengar ceramah-ceramah Ustad Basri setiap hari Jumat.”
“Alaah, sadar taik kucing! Orang maksiat tetap saja maksiat! Orang kafir tetap saja kafir!”
“Sudahlah, Pak.”
“He, Bu, kita tidak bisa dipermalukan begitu saja… sedangkan bulan depan desa kita akan mendapat kunjungan dari Bapak Walikota. Mau ditaruh di mana muka saya, Bu?”
“Sebaiknya diusulkan saja kepada Walikota supaya memperbaiki tanggul dan jembatan yang sudah tua itu…”
“Sudah, sudah diam! Pokoknya Ibu jangan singgung-singgung soal jembatan itu lagi. Saya harus fokus memikirkan pemilihan walikota tahun depan. Biar bagimanapun saya ini kader partai yang sangat diperhitungkan, Bu. Saya jamin tahun depan banyak masyarakat yang akan mendukung saya. Dan saya tidak mau pusing dengan urusan-urusan sepele macam ini.”
“Pak, soal memperbaiki jembatan bukan urusan sepele,” si istri terus memberi peringatan, namun kemudian dibentak oleh sang suami:
“Sudah diam, Bu, jangan banyak cingcong!”
Sang istri terdiam dengan mata menerawang. Sudah cukup lama ia terheran-heran, kenapa suaminya selaku kepala daerah, lebih mementingkan urusan lainnya ketimbang soal-soal yang harus dibenahi di sekitar desanya. Bahkan belakangan ia menjalin bisnis perumahan dan pertanahan yang tidak ada hubungannya dengan perbaikan desa dan kemaslahatan warganya sendiri.
***
Ceramah Ustad Basri yang disampaikan di mesjid Al-Mubarok kali ini tentang rahasia “Tobat” yang merupakan anugerah Allah dan diberikan kepada siapapun yang dikehendaki oleh-Nya. Yang terpenting manusia jangan sampai berputus asa dari kasih sayang Allah, karena hanya Allah-lah Yang Maha Tahu, kapan waktu dan kesempatan yang tepat buat seseorang untuk kembali ke jalan-Nya. Tidak ada hak atas manusia untuk menghakimi manusia lain, karena tugas yang diberikan sebagai khalifah adalah mengajak ke jalan kebaikan, serta mengingatkan manusia yang berpaling dari jalan kebenaran, menuju ke jalan yang diridhoi oleh Allah Swt.
Nampak Sinta meneteskan air mata ketika mendengar uraian ceramah dari Ustad Basri. Di sebelahnya Ibu Lurah bersama para jamaah pengajian ikut mendengar wejangan sang Ustad, yang diselingi pula dengan doa-doa agar Allah memberikan cahaya-Nya bagi orang-orang yang berpaling dari jalan-Nya. Beberapa jamaah dari kalangan bapak-bapak ikut mendengarkan ceramah dengan khusyuk, di antaranya para pegawai pabrik, para pedagang dan staf-staf kelurahan, kecuali Lurah Herman yang berhalangan hadir karena harga-dirinya yang tak mau disejajarkan dengan bawahannya, terlebih-lebih bila ia duduk sama tinggi dengan kalangan pedagang dan pelacur.
Menurut kabar dari sumber yang layak dipercaya, konon Lurah Herman tidak sepakat dengan cara-cara yang ditempuh Ustad Basri, yang gemar menyampaikan ceramah-ceramah di tempat-tempat prostitusi. Bahkan Lurah itu pun membangun bangunan megah sebagai mesjid tandingan, karena mesjid Al-Mubarok yang berlokasi di dataran tinggi Kampung Jombang telah diprakarsai oleh mantan Lurah yang menjabat sebelumnya. Namun setiap hari Jumat, hanya mesjid Al-Mubaroklah yang dipakai jamaah untuk solat Jumat, karena mesjid yang dibangun oleh Lurah Herman sangat jauh dari jangkauan pemukiman penduduk.
Di musim hujan tahun ini, mesjid Al-Mubarok sering pula dimanfaatkan oleh para pengungsi yang rumahnya terendam banjir karena tingginya curah hujan serta pendangkalan aliran sungai. Ustad Basri memberikan peringatan kepada para jamaah bahwa segala kerusakan yang terjadi di daratan maupun lautan akibat ulah tangan-tangan manusia sendiri. Suatu kali pernah terjadi perdebatan sengit dengan Pak Lurah selepas Ustad itu menyampaikan ceramahnya bahwa, ekploitasi manusia serta eksplorasi alam yang berlebihan adalah penyebab utama terjadinya kerusakan di mana-mana. Lurah Herman yang sedang sibuk mengurusi bisnis tanah dan perhotelan merasa terusik mendengar ceramah itu, hingga ia berencana untuk memposisikan penceramah lain, serta menolak kehadiran Ustad Basri di Kampung Jombang, beberapa hari menjelang kunjungan walikota di sekitar kampung tersebut.   
***
Sepanjang hari hujan tak henti-henti mencurahkan airnya ke segenap penjuru provinsi Banten. Beberapa hari kemudian banjir bandang terjadi di mana-mana, hingga melanda Kampung Jombang dan daerah-daerah yang datarannya rendah. Pada malam Jumat air bah menghantam perkampungan di sekeliling Jombang, hingga rumah-rumah terendam banjir. Kegaduhan terjadi di mana-mana, di sana-sini suara orang-orang berteriak minta tolong, anak-anak menangis menjerit-jerit ketakutan. Harta benda tak mungkin terselamatkan karena secara tiba-tiba, sekitar pukul 24.00 tanggul-tanggul yang mengitari sungai Kalitimbang jebol secara beruntun. Seketika air semakin meninggi, orang-orang berlarian menuju mesjid Al-Mubarok, termasuk Lurah Herman dan keluarganya.  Sementara itu Ustad Basri beserta keluarganya, baru muncul belakangan ketika orang-orang sudah berjubel memadati mesjid itu untuk menyelamatkan diri.
Di antara para pengungsi yang berpakaian kumal dan basah kuyup itu, nampak Lurah Herman lebih mencolok dari yang lain-lainnya, mengenakan kemeja batik kuning berlogo burung garuda, dengan kopiah beludru di kepalanya. Suasana gaduh dan hiruk-pikuk tiba-tiba terhenti ketika Lurah Herman menatap Sinta dan teman-temannya sesama tunasusila, lantas memekik-mekik seperti orang kesurupan:
“He, pelacur-pelacur! Kalian mau apa ke sini? Untuk apa kalian berkumpul di mesjid ini?”
“Tolonglah kami Pak, di mana-mana air semakin meninggi, di tempat kami sudah terendam banjir,” ujar Sinta membela teman-temannya.
“Itu urusan kalian! Carilah tempat lain, jangan sampai kalian mengotori mesjid ini… dasar perempuan sampah!”
Melihat keributan itu Ustad Basri mencoba menengahi, “Sabarlah Pak Lurah… mereka hanya mencari tempat untuk menyelamatkan diri…”
“Tidak bisa! Sudah lama saya menyangsikan kemampuan Anda sebagai mubaligh. Beberapa hari lagi kampung kita akan kedatangan walikota, dan mulai saat ini staf saya sudah mendapatkan orang baru sebagai penceramah di mesjid ini… sedangkan Anda, mulai detik ini saya pecat!”
Ustad Basri menghela napas dalam-dalam. Ia merasa terharu sambil menatap semua warga dengan penuh kelembutan. Suasana takut dan panik akibat banjir semakin terobati bila menyaksikan ketenangan dan kelembutan hati Ustad Basri. Sedangkan Lurah Herman, tetap saja bersikukuh untuk mengusir Sinta dan teman-temannya agar mengungsi ke tempat lain.
“Tolonglah kami Pak, tempat inilah yang paling aman dari kemungkinan banjir yang semakin besar lagi. Kami hanya berlindung untuk mencari tempat aman.”
“Jangan banyak omong, kalian semua sampah masyarakat… kalian semua orang-orang kafir, dan berhak diazab oleh Allah…!”
“Tenanglah Pak Lurah, mereka semua mencari selamat, memang benar apa yang mereka katakan,” balas Ustad Basri.
“Sudah diam! Sebagai ustad, Anda juga bersekongkol dengan mereka… Anda juga termasuk pembela-pembela pelacuran di negeri ini!”
“Hati-hati ngomong, Pak Lurah… jangan tergesa-gesa membikin kesimpulan…”
“Diam kamu! Pokoknya kalau pelacur-pelacur ini tidak mau pergi dari tempat ini,  sekarang juga saya yang akan keluar untuk mencari tempat pengungsian lain…”
Ustad Basri berusaha menahan kepergian Lurah Herman, karena banjir semakin membesar dan air bah di mana-mana semakin meninggi. Tetapi Lurah Herman bersikeras menentang peringatan Ustad Basri hingga kemudian menghilang di kegelapan malam.

Bunyi gemuruh terdengar dari kejauhan menjelang waktu subuh. Orang-orang terperangah mendengar suara bergemuruh yang terasa asing di telinga mereka. Baru keesokan harinya setelah matahari terbit, semakin nampak jelas tiga sosok mayat tergeletak di bawah jembatan yang ambruk. Adapun salah seorang dari mereka mengenakan kemeja batik kuning berlogo burung garuda, dengan kopiah beludru di kepalanya…. ***

Kuli Tinta


Cerpen Hafis Azhari

”Kita hadapi saja apa yang akan terjadi.”
“Tapi Mas dibayar berapa dengan melakukan perlawanan seperti itu?”
“Ini bukan perkara uang, Ris, tapi perkara mental kita, kekuatan kita untuk menghadapi problem hidup.”
“Alaah taik kucing! Persoalan apa yang tak bisa diselesaikan dengan uang, Mas?”
Untuk ke sekian kalinya Rista mengeluh dan menggerutu di hadapan Somad suaminya. Sebagai pemuda yang berkiprah di dunia kewartawanan, Somad memegang prinsip-prinsip yang berseberangan dengan istrinya dalam beberapa hal. Misalnya dalam soal kesederhanaan dan hidup bersahaja. Menurut Somad, pantang baginya untuk bersaing dalam hal-hal yang bersifat kebendaan. Ia berusaha untuk kukuh memegang prinsip-prinsip jatidirinya sebagai wartawan, apapun konsekuensi yang akan dihadapi di kemudian hari.
Kali ini ia harus berurusan dengan aparat-aparat perusahaan Stone Engeneering yang merupakan anak cabang dari PT. Krakatau Stone.  Pasalnya adalah hasil reportase yang dia buat seminggu lalu di harian Banten Bangkit, yang kemudian banyak menyulut pro-kontra di kalangan masyarakat Cilegon dan karyawan PT. Krakatau Stone. Pembuangan limbah dari perusahaan anak cabang itu telah mengaliri sungai Ciwandan yang dikabarkan sudah melampaui ambang batas. Tetapi pihak perusahaan menampik pemberitaan tersebut, bahkan dua orang security berjanji akan melaporkan Somad kepada pihak yang berwajib sebelum ia menyatakan permintaan maaf di seluruh koran-koran Banten.
“Permintaan maaf untuk apa?” Somad bersikukuh di hadapan istrinya.
“Emangnya Mas itu siapa? Apakah Mas itu seorang politisi atau pengusaha besar yang kebal hukum, begitu?”
“Ris, aku sudah melakukan tugasku apa adanya, bahkan aku pun sudah melakukan riset bersama mahasiswa Untirta tentang kebenaran limbah itu.”
“Tapi Mas terlalu kecil untuk berhadap-hadapan dengan mereka, seperti cicak dan buaya.”
“Ya tenang saja, Ris, semua orang tahu aku ini hanya seorang wartawan, tapi biarlah kebenaran menyatakan dirinya sebagai kebenaran.”
***
          Kini kehamilan Rista sudah memasuki bulan ketujuh, sementara mertua Somad yang dari Pandeglang mendesak istrinya agar melakukan selamatan “nujuh bulan” di kampungnya berdasarkan adat Sunda. Bagi Somad sendiri, tak peduli apakah akan diadakan dengan adat Sunda, Jawa maupun Batak sekalipun. Meski ia pun mengukur kemampuan finansial yang terbatas untuk penyelenggaraan-penyelenggaraan acara seperti itu. Tapi ia menyadari betapa pentingnya hal-hal seperti itu bagi istrinya, dan terutama bagi mertua dan keluarganya di kampung halaman. Ia tak mau mengadakan konfrontasi lebih jauh, karena ia pun menyadari, di balik kelemahan seorang wanita terkandung banyak kelebihan yang kadangkala sulit untuk diakui oleh banyak pria.
          “Jadi kita harus bagaimana, Mas? Berapa dana yang kita miliki untuk acara selamatan itu?”
          “Kita hadapi saja, Ris, apa yang akan terjadi.”
          “Mas, aku sudah bosan mendengar kata-kata seperti itu. Aku membutuhkan fakta yang riil, yang nyata, apa yang harus kita persiapkan untuk acara di kampung nanti.”
          “Tenang saja, Ris, kita jalani saja apa yang ada di hadapan kita.”
          “Mas?!”
***
Bisikan-bisikan itu terus menyelimuti hari-hari Somad untuk menghentikan pemberitaan tentang limbah perusahaan itu. Beruntung ia mendapat support dari pemimpin redaksi Banten Bangkit untuk terus melakukan langkah-langkah yang ia tempuh, sambil menjalin kerjasama dengan jurusan Kimia di Untirta. Namun pada malam harinya ketika ia sedang berbaring di samping istrinya, serta-merta sang istri bertanya:
          “Mas, berapa tawaran mereka untuk kita?”
          “Maksudmu?”
          “Berapa yang mereka tawarkan untuk menghentikan pemberitaan itu?”
          “Bukan untuk menghentikan pemberitaan, Ris, tapi untuk suatu permintaan maaf.”
          Somad terdiam sesaat. Setelah menghela napasnya ia pun menjawab, “Tawaran mereka cukup tinggi, Ris.”
          Somad pun menyebutkan jumlah penawaran itu di hadapan istrinya, hingga sang istri menyimpulkan seketika:
          “Menurutku, tidak ada salahnya Mas menyatakan maaf.”
          “Maaf untuk apa? Kesalahan apa yang aku lakukan selama ini?”
          “Jangan sombong Mas, semua manusia tidak luput dari salah dan dosa.”
“Ini bukan perkara kesombongan Ris, tapi kesalahan apa yang aku lakukan terhadap perusahaan itu? Kenapa aku harus minta maaf karena persoalan yang tak jelas letak kesalahannya di mana?”
Suasana hening dan tegang. Tak berapa lama Somad berkata sambil mengepalkan kedua tangannya, “Aku hanya mengungkapkan fakta yang ada di lapangan. Aku hanya menyampaikan kebenaran, biar terasa pahit sekalipun!”
Mereka saling diam terpaku. Somad merogoh kantongnya untuk mengeluarkan dompet. Ia mengeluarkan semua uang yang ada dalam dompet itu, kemudian menaruhnya di atas meja sambil berucap, “Ini ada dana secukupnya untuk selamatan. Tadi pagi aku menerima honor dari kerjasama yang aku lakukan dengan Untirta. Kita harus terbiasa mengadakan acara-acara seperti itu dengan cara-cara yang simpel dan sederhana.”
***
          Hari-hari berikutnya Somad mengerjakan tugas-tugasnya untuk meliput kejadian-kejadian di lapangan. Dalam beberapa minggu memang tak ada berita yang paling dominan kecuali santernya berbagai komentar dan tanggapan pembaca mengenai kasus pembuangan limbah itu. Kabarnya masyarakat Ciwandan melayangkan gugatan kepada pihak perusahaan yang dikawal oleh sekelompok LSM yang bergerak di bidang lingkungan hidup.
          Somad tetap konsisten untuk meliput fakta-fakta yang ditemukannya di lapangan, meski ia menyadari hari-hari yang semakin mendekati persalinan istrinya hingga memasuki bulan kesembilan. Tawaran pihak perusahaan semakin meninggi agar ia menghentikan laporan-laporan yang disampaikannya dari hasil penelitian di lapangan. Kali ini pihak perusahaan tidak berani menyatakan secara terbuka untuk mengadakan konfrontasi langsung dengan para wartawan. Di samping mereka pun kewalahan menangani gugatan masyarakat setempat yang disokong oleh kekuatan LSM.
          Detik-detik terakhir menjelang istrinya melahirkan telah tiba. Somad segera membawa istrinya ke rumah sakit, meski ia belum mempersiapkan dana yang cukup untuk biaya persalinan. Di depan pintu gerbang rumah sakit, tiba-tiba dua orang menghampiri dirinya sambil mengeluarkan cek dengan jumlah uang yang sangat tinggi.
          “Uang dari mana ini?” Somad tersentak kaget.
          “Tenang saja Pak, kami utusan dari Desa Ciwandan telah memenangkan gugatan di pengadilan. Uang ini dari patungan semua warga Ciwandan yang menerima kompensasi dari perusahaan Stone Engeneering. Sekarang perusahaan itu sedang membangun water treatment agar tidak melakukan pembuangan limbah melalui sungai. Selama beberapa minggu ini, perusahaan itu tutup untuk tidak berproduksi, sampai water treatment itu selesai dibangun.”
          Somad mengucapkan terimakasih, sambil bergegas mendampingi persalinan istrinya, lantas menyambut kehadiran sang jabang bayi dengan kata-kata:
          “Tenanglah Nak, kita hadapi saja apa yang akan terjadi…” ***

Kampung Abal-abal



Cerpen Hafis Azhari


Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya ada di dalam gundukan tanah itu sejak limabelas tahun lalu duduk di kelas tiga SD. Saat itu aku bersama teman sepermainanku, Idrus, melihat adanya warga pendatang di sekitar Kampung Kalitimbang yang menggali sebuah tanah di pinggir sungai, kemudian mengubur sebuah benda misterius sebelum ia menimbunnya dengan tanah galian. Tak berapa lama warga kampungku mempercayai bahwa gundukan tanah itu adalah makam Wali Surip yang konon dalam sejarah hidupnya pernah terbang di atas sejadahnya untuk melaksanakan solat Jumat di Masjidil Haram, Kota Mekah.
Warga pendatang itu kemudian memperkenalkan dirinya dengan nama “Ustad Samin”, di mana setiap malam Jumat menerima berbagai rupa sedekahan dari masyarakat di sekitar kampung kami. Di rumah yang didirikannya di sebelah makam Wali Surip itu ia mengumpulkan rupa-rupa sedekahan dari berbagai macam jenis bungkusan, yang terdiri dari beras, gula, minyak, mie, kopi, rokok, hingga amplop berisi uang sedekahan.
Selama limabelas tahun aku tak pernah berniat untuk mengusik kepercayaan masyarakat di sekitarku, bahkan sewaktu SD aku pernah diajak beberapa kali oleh ibuku untuk mengambil air putih dari sumur yang digali di samping makam Wali Surip, dengan jaminan dari Ustad Samin bahwa air putih itu berkhasiat untuk menyembuhkan berbagai jenis penyakit, menangkal bala serta mendatangkan rizki dan barokah.
Selama bertahun-tahun warga Kalitimbang sangat mengagumi kesaktian Ustad Samin, bahkan rela memberikan berbagai rupa sedekahan, dengan harapan mereka mendapat cenderamata dari Ustad Samin berupa batu cincin atau biji tasbih, bahkan sepotong dahan kayu pun sangat diharagai warga Kalitimbang apabila mereka terima langsung dari tangan sang Ustad, yang konon telah dibacakan mantra-mantra sambil berpuasa di atas makam Wali Surip.
Dalam beberapa tahun Ustad Samin semakin mempersolek bangunan rumahnya di samping makam tersebut, hingga suatu ketika ia pun mengajak seorang istri dan dua anaknya untuk ikut-serta tinggal di rumah yang didirikan di bantaran sungai tersebut.
“Kalau anak Ibu sakit panas, kalungkan tasbih ini di lehernya, kemudian minumkan air putih ini setelah makan,” ujar Ustad Samin sambil menyodorkan sebotol air putih kepada seorang warga yang mengeluh karena anaknya sakit. Warga itu kemudian disuruh berdoa di depan makam untuk meminta pertolongan pada Wali Surip, sambil bernazar pula bahwa apabila anaknya pulih dari penyakitnya ia akan mengadakan selamatan dengan menyembelih kambing yang sepenuhnya diselenggarakan oleh Ustad Samin bersama istrinya.
***
Limabelas tahun kemudian, ketika aku duduk di bangku kuliah di IAIN Serang, sementara Idrus temanku kuliah di Untirta, perasaan ingin tahu dan ingin paham tentang suatu permasalahan semakin tumbuh pada diri kami. Di Kampung Kalitimbang nyaris tidak ada yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi kecuali aku dan Idrus, yang kebetulan dibesarkan dari kelas pedagang yang tidak terlampau mempedulikan hal-hal mistik yang dihembuskan oleh Ustad Samin dan keluarganya.
“Apakah kau percaya bahwa Ustad Samin punya peran penting terhadap nasib masyarakat kita selama ini?” tanyaku pada Idrus.
“Aku tidak tahu, tapi masyarakat sudah kadung percaya,” jawabnya dengan mata menerawang.
“Yang terjadi selama ini, apakah Ustad Samin betul-betul membantu masyarakat kita, ataukah dia mengambil keuntungan dari kebodohan masyarakat kita?”
“Menurut saya, pihak yang membantu justru masyarakat kita, sedangkan dia dan keluarganya adalah pihak yang diberi bantuan.”
“Bagaimana kamu bisa berpendapat seperti itu?”
“Karena berkat kebodohan warga kampung, data statistik yang menyangkut jumlah kemiskinan, masyarakat buta huruf hingga jumlah kematian bayi, ternyata tidak mengalami perubahan di kampung kita.”
“Ya tepat sekali, sedangkan rumah yang dibangun Ustad Samin di samping sungai itu semakin lama semakin mentereng saja.”
Pada akhirnya aku pun membuat kesepakatan bersama Idrus untuk mencari tahu tentang kebenaran gundukan yang dipercaya masyarakat kami sebagai makam Wali Surip tersebut. Bagi kami, kepercayaan pada kuburan itulah yang menjadi pangkal permasalahan yang membuat masyarakat kami tidak berdaya, bahkan taraf hidup mereka tidak sepadan dengan perkampungan lainnya karena terbelenggu oleh pendangkalan dan pembodohan yang dibikin-bikin oleh Ustad Samin selama ini.
“Kalau begitu kita gali saja gundukan tanah yang dipercaya sebagai kuburan wali itu.”
“Bagaimana mungkin? Nanti malah kita kepergok sama Babinsa?”
“Justru Babinsa kita sudah tunduk sama Ustad Samin, termasuk Lurah kita. Mereka juga aktif menyetor sedekahan tiap malam Jumat.”
Astaghfirullah al-adzim…”
“Yang menjadi problem, Ustad Samin itu tidak punya santri maupun anak-anak asuh yang menjadi tanggungan hidupnya. Jadi semua barang-barang sedekahan yang dia terima selama ini murni untuk kepentingan dirinya sendiri dan keluarganya.”
***
Cangkul dan linggis sudah kami persiapkan untuk pengembaraan kami di malam Minggu itu. Sepeda motor kumatikan ketika melintasi balai desa untuk kemudian menyusup masuk ke serambi sebuah rumah penduduk. Dari jembatan sungai kami melihat sebuah bangunan rumah di kejauhan, dan di belakangnya terlihat sebuah batu nisan di atas gundukan tanah yang selama ini dianggap sakral oleh masyarakat Kalitimbang.
Kami menaruh sepeda motor di samping jembatan, kemudian berjalan mengendap-endap menuju gundukan tanah itu sambil menenteng linggis dan cangkul di pundak. Selama berjam-jam kami membongkar gundukan tanah itu, dengan sedapat mungkin tidak menimbulkan suara-suara yang bakal mencurigakan keluarga Ustad Samin. Tak lama kemudian kami pun terperangah ketika yang kami temukan di malam itu hanyalah sebongkah batang kayu yang sudah menjadi fosil, dan kemudian berhasil kami cungkit dengan memakai linggis yang telah kami persiapkan sebelumnya.
“Berarti tidak ada yang bernama Wali Surip selama ini,” aku mendengar Idrus sedang bergumam dengan pandangan menerawang.
“Ya, benar Idrus, selama ini masyarakat kita hanya mempercayai sebongkah batang kayu ini,” kataku sambil mengangkat kayu itu di hadapan Idrus.
“Jadi siapa itu Ustad Samin? Manusia sejenis apakah dia hingga masyarakat kita begitu memujanya?”
“Dia adalah sosok yang nyata, dan ada di sekitar kita.”
“Lantas siapakah masyarakat kita selama ini? Apakah mereka juga sosok yang nyata, seperti halnya Ustad Samin?”
“Ya, mereka memang nyata, tapi selama ini telah mempercayai sesuatu yang tidak nyata.”
Kami terdiam sejenak, kemudian aku pun bertanya pada Idrus, “Sobat, selama ini kita percaya pada Tuhan, apakah Dia sesuatu yang nyata?”
Sambil menghela napas Idrus pun menjawab, “Ya, Tuhan itu sesuatu yang ada, tapi tidak ada yang dapat menyerupai Dia dengan sesuatu apapun.”
“Benar, kalau begitu rendah sekali kualitas keimanan kita bila menyamakan wujud Tuhan dengan sebongkah kayu, bahkan dengan seorang wali sekalipun.”
Setelah peristiwa itu kami sepakat untuk tidak membuka rahasia kuburan kayu itu kepada masyarakat kami, hingga ketika memasuki bulan Ramadhan keluarga Ustad Samin kemudian hengkang meninggalkan kampung Kalitimbang, karena banjir besar telah melanda perkampungan kami. Saat itu tanggul-tanggul di sekeliling sungai Kalitimbang jebol secara beruntun, hingga air bah menghantam rumah yang dibangunnya di bantaran sungai itu.
Keesokan harinya ketika banjir mulai reda, aku pun mengajak Idrus untuk melihat bangunan rumah Ustad Samin yang roboh berantakan, hingga reruntuhan bangunan itu pun menutupi lubang sumur dan gundukan tanah yang selama ini menjadi tempat bersandarnya masyarakat kami. ***   

CARI KERJA DISNI
  

Manfaat Crystal-X

Toko Kirana

Cari Loker Disini


Popular Post

PRODUK UNIK JANGAN DI-KLIK
Copyright © 2013 Ahmad Tohari Pages . All rights reserved.. Powered by Blogger.