Filsafat, Sastra dan Kebenaran

Indah Noviariesta – aktivis Gema Nusa, alumni Universitas Tirtayasa, Banten.

Bila meneropong karya-karya para pemenang nobel sastra dari zaman ke zaman, kita bisa melihat karakter manusia Barat yang cenderung ekstrim dalam segala hal. Tetapi di samping kaum atheis maupun sekularisme radikal, sastra Barat tidak pernah kering dari jenis-jenis roman, drama dan puisi yang penuh cita-rasa keimanan dan dambaan pada nilai-nilai Ilahiyah yang sejati. Tentu saja kualitas dan cita-rasa keimanan manusia di zaman Nabi Ibrahim memiliki konteks yang berbeda – meski esensinya sama – dengan manusia zaman Einstein sekarang ini.

Pergulatan pemikiran dan religiusitas manusia Barat lebih terdapat pada sikap sang pencari, eksplorator, bagaikan ketelitian dan ketekunan sarjana dalam ruang laboratorium. Mereka bertanya dan bertanya, kemudian menemukan jawaban, meskipun jawabannya itu tak lain dari mata-rantai pertanyaan baru lagi. Sastrawan terkemuka kelahiran Cekoslowakia, Franz Kafka (1883-1924), pernah memberikan garis besar bahwa sosok sang pencari, berkat ketekunan dan kegigihannya, pada waktunya akan sampai pada pertemuan di depan pintu gerbang intimitas Tuhan.

Pandangan religiusitas dari Kierkegaard (filosof Denmark) sangat mempengaruhi alam pemikiran Kafka. Keseriusannya menggeluti filsafat dan sastra membuat kepribadian Kafka dikenal sebagai sastrawan yang berani mengungkap kedalaman psikologis di masa-masa pencarian identitas dirinya. Hingga cenderung menolak segala hal yang bersifat dangkal dan urik belaka. Tapi kemudian, ketika sampai pada puncak pencarian kebenaran tersebut, sikap rendah-hati menjadi keharusan setelah manusia Barat mengalami pahit getir dan asam-garam perjuangan yang mereka tekuni. Sebagian mereka mengakui dengan jujur tentang keterbatasan antara kebebasan sang eksplorator dengan kekuasaan Yang Maha Absolut Yang Tak Terbatas.

Eksplorasi Orang Indonesia

Peran filsafat eksistensialisme Barat harus diakui begitu mengurat-mengakar dalam khazanah kesusastraan Indonesia. Bebarapa seniman yang saya kenal, terkadang membuat saya tersenyum setelah membaca karya-karyanya bahwa apa yang ditulisnya itu sebenarnya hanya modifikasi belaka dari karya-karya Albert Camus maupun Sartre, sastrawan dan filosof Prancis yang terkenal dengan ucapannya, “Neraka adalah orang lain!”
Tidak jauh berbeda dengan karya-karya T.S. Elliot yang membongkar karakter manusia hedonis, dengan watak serakah dan korupnya yang kadang tidak malu-malu dipertontonkan, meskipun dia menyadari bahwa eksistensi yang dipertahankan itu kelak akan menjerat dirinya sendiri. Para penulis Eropa, khususnya Prancis, memang tidak pernah kering menghasilkan karya-karya adihulung, sebagai epos ciptaan jiwa manusia modern, yang pada hakikatnya diilhami pula dari para perintis dan pendahulunya, misalnya “Kisah Doktor Faust” karya Wolfgang Goethe.

Kisah Doktor Faust sangat populer di negeri-negeri Barat sejak masa abad pertengahan, dan terus diperbaharui dan dimodifikasi hingga hari ini. Berkisah tentang seorang intelektual dan doktor yang berambisi keras untuk merebut kembali pohon larangan Firdaus yang pernah lepas dari tangan Nabi Adam. Buah terlarang itu dapat pula ditafsirkan sebagai “kunci pengetahuan” tentang kebaikan dan keburukan. Jadi hanya Tuhan yang berdaulat penuh memegang kunci rahasia tersebut. Tetapi karena tabiat dan watak Doktor Faust yang ambisius, serta menyadari kemampuan intelektual manusia yang terbatas, dia merelakan diri untuk menjual jiwanya pada Iblis Mefisto (Raja Jin). Keduanya menyetujui kesepakatan perjanjian, bahwa ketika wafat kelak Doktor Faust akan memasrahkan jiwanya pada Mefisto.

Terserah apapun namanya, bisa Iblis Mefisto, Lucifer, Jin Putih, Jin Islam atau silakan diberi nama yang bagus-bagus semau kita. Dan ketika sampai pada puncak tangga yang kesembilan, Mefisto pun memberikan kunci rahasia sebagai simbol pengetahuan (ilmu gaib) dengan daya teknologi Raja Jin yang dianggapnya hebat itu. Doktor Faust pun mengetahui banyak hal yang tak bisa diketahui orang biasa, bahkan memahami apa yang tak bisa dipahami orang awam. Sang penjual jiwa itu akhirnya dapat berbuat sesuatu mengenai hal-hal yang tak bisa diperbuat orang pada umumnya. Dia pun menjadi kaya-raya, bahkan berkuasa dan ditakuti oleh banyak orang.

Kemudian Doktor Faust tak bisa menghindari umur manusia yang terus berjalan, ruang dan waktu berproses tak mungkin dielakkan, hingga sampailah di usia senjanya yang tua-renta. Dia berusaha untuk mengulur-ulur waktu, bahkan mencoba menghindar dari cengkeraman Raja Jin tersebut. Dia terus mencari akal dan siasat agar dapat keluar dari renggutan Sang Iblis Mefisto. Dia berjuang untuk menentukan nasibnya sendiri, menggapai-gapai cara untuk mencapai rahmat Ilahi, tetapi toh pada akhirnya…

“Kalaupun ada mantra-mantra yang sanggup membuat gunung meletus, sanggup membikin tanah terbelah (gempa bumi), bahkan bisa membuat orang-orang mati bangkit dan bicara kembali, tapi ketahuilah, semuanya itu tak ada yang lepas dari manajemen dan kekuasaan Allah!”
Ayat Quran yang saya kutip dari surat Ar-Ra’du (13:31) ini paralel dan sehaluan dengan kata-kata mutiara yang pernah diucapkan sastrawan Franz Kafka di usia senja dan puncak keletihannya. Terutama saat dia mengakui keterbatasan eksplorasi dan pencarian manusia akan makna kebenaran, “Bukan kita manusia yang sanggup menggapai Tuhan, tetapi Tuhan sendirilah, berkat kasih-sayang-Nya Yang akan meraih kita yang serba terbatas ini.”

Ungkapan bersayap dari sastrawan sekaligus filosof itu meluncur begitu fasih seakan-akan dia pernah membaca Al-Quran dan Al-Hadits. Meskipun dia tidak terlampau mengikatkan diri pada teks harfiyah dari Al-Kitab (agama formal), namun berinti religius dan percaya pada kebaikan abadi. Bahkan Pearl S. Buck dalam novelnya “The Good Earth” secara implisit menggugat ketundukan para penulis Asia pada ideologi Eropa setelah abad pertengahan hingga zaman neokolonialisme ini. “Mengapa mereka begitu mudah menganut ajaran yang didakwahkan oleh para pemikir dan filosof Eropa. Padahal tidak sedikit dari orang-orang seperti kami, para penulis Eropa yang merasakan keterpurukan manusia-manusia Faust sebagai pahlawan dan ksatria menyedihkan, dengan hati dan jiwa-jiwa muram dan gersang.”

Di zaman rasionalisme Eropa, kisah Doktor Faust memang pernah dipuji-puji sebagai lambang manusia progresif yang berani mengambil risiko besar demi kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan tata perdagangan yang menjadi demam orang-orang Eropa dan Amerika imperialis. Tetapi di zaman post-industrial ini, transformasi sosial kian mengglobal, dan manusia modern semakin membuka mata-hatinya untuk menyadari kekhilafan masalalunya.

“Tidak semua yang terjangkau oleh kekuatan otak dan keinginan hawa nafsu manusia, boleh dilakukan sekehendak hatinya,” demikian peringatan Albert Einstein untuk manusia hiper modern saat ini. Dalam drama Paul Claudel (Prancis) yang berkisah tentang orang-orang Spanyol yang mewarisi kebudayaan Arab di akhir abad ke-16 lalu, disampaikan pula kesimpulan bahwa perjuangan manusia untuk mencari kebenaran akan bermuara di puncak keletihannya, hingga pada waktunya ia pun mampu menemukan Tuhannya. Tapi ketahuilah bahwa “perjumpaan” dengan Tuhan itu bukan atas dasar jasa-jasanya sendiri, tetapi karena pemberian, anugerah dan kasih sayang Allah kepada manusia.

Karenanya kita tak perlu sewot dan mencak-mencak ketika disentil oleh novel “Perasaan Orang Banten” bahwa memang beginilah adanya kita, yang harus terus bermuhasabah dan mengevaluasi diri. Sebab seintelek-inteleknya orang Indonesia kerapkali kita tak berdaya menghadapi petuah-petuah leluhur yang sudah kadung “mengongkosi” perjalanan hidup kita. Bagaimanapun kita harus jujur mengakui, karena seringkali manusia terlena pada kedaulatan pribadi hingga mengabaikan hal paling krusial bahwa sehebat-hebatnya rahasia disimpan oleh manusia, tak mungkin dia lepas dari pemantauan dan manajemen Tuhan Yang Maha Melihat. (*) 

Menyingkap Memori Kolektif Bangsa

-    Muakhor Zakaria
-    Mahasiswa Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP Al-Bayan).

Persoalan sejarah militerisme Indonesia di seputar tahun 1965 tak terlepas dari konteks politik pada jamannya, yang berhubungan dengan lembaga-lembaga intelijen sebagai kekuasaan dalam kekuasaan, negara dalam negara, yang bergerak di luar kontrol administrasi yang resmi. Dalam buku "Dokumen CIA (Melacak Penggulingan Soekarno)” yang diterbitkan oleh Hasta Mitra, Jakarta (2002) Joesoef Isak selaku mantan Sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika (PWAA), menyatakan dalam kata pengantarnya bahwa kekuatan intelijen di abad 20 ini telah berkembang menjadi globalisme intelijen yang terus berjalan sebagai realitas mata-rantai interaksi, koordinasi dan koneksitas induk-semang dan para abdinya. Sedangkan di Indonesia selaku abdi-abdi lokal yang mereka sebut "our local army friends" hendaknya jangan dianggap enteng, sebab paradigma perang dingin yang digembar-gemborkan Amerika sebagai "sudah berakhir" itu pada kenyataannya terus berjalan dan esensinya tetap valid hingga saat ini.

Deklarasi yang telah ditandatangani Presiden Amerika dan Rusia sebagai simbol berakhirnya perang dingin sebenarnya hanyalah satu dari perangkat keras perang dingin yang telah dikurangi, sedangkan perangkat-lunaknya, software-nya, state of mind-nya atau wawasan paradigmanya tetap utuh dan terus berjalan dan berpraktek hingga detik ini. Realitas itu terefleksi sepenuhnya di pentas politik Indonesia hingga hari ini, karena segenap permesinan, aparat hingga ke sel-sel paradigma Orde Baru sebagai pengemban dan pelaksana paradigma perang dingin masih utuh kukuh dan berfungsi dalam seluruh strata kehidupan nasional kita.

Sejarah kekuatan militer yang dimanfaatkan Presiden Soekarno, terutama saat penumpasan RMS, PRRI-Permesta dan beberapa gerakan separatis yang bersenjata, perlu secara jujur diakui bahwa untuk mempertahankan stabilitas negara sarta mempererat kesatuan dan persatuan, memang dibutuhkan kekuatan militer. Namun kemudian, karena pembawaan paternalisnya, Soekarno kurang menghiraukan keadaan di lapangan militer bahwa mereka – yang merasa telah berjasa itu – secara diam-diam menggalang kekuatan canggih untuk berambisi merebut kekuasaan, dan pada masanya memang tidak mau dikendalikan oleh kekuatan sipil.

Sejak berdirinya kemerdekaan RI, bila memperhatikan komentar-komentar Simatupang maupun Nasution, terbukti bahwa kedua tokoh militer itu terang-terangan merasa kesal dan jengkel kepada partai-partai politik, juga kepada laskar-laskar bersenjata dari unsur Islam, nasionalis maupun komunis. Orang-orang militer itu merasa sangat berjasa dalam mengamankan RI, sementara sikap sentimennya kepada para politisi sipil terus berkembang hingga menganggapnya sebagai pengacau-pengacau belaka.

Pada tanggal 17 Oktober 1952 gejalanya semakin menampak, terutama sewaktu para anggota dewan mempersoalkan sosok Nasution. Setelah itu meriam-meriam telah dimoncongan ke arah Istana Negara, dan serta-merta disusul oleh tuntutan agar DPR segera dibubarkan. Kemudian setelah penyelesaian konfrontasi Irian Barat dan Malaysia, tentulah mereka merasa sangat berjasa hingga menuntut imbalan berlebihan kepada Presiden Soekarno.
Pada tahun-tahun itu terbukti ketika Joesoef Isak selaku Sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika banyak mengadakan kunjungan ke beberapa negara, ia sempat memantau kesejahteraan para atase militer di KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) begitu makmur serba kecukupan, sedangkan para pegawai-pegawai KBRI non-militer sangat minim tingkat kesejahteraan hidupnya. Dengan itu terhimpunlah pembuktian bahwa rupanya di kalangan atase militer telah mendapat jaminan untuk memperoleh jalur tersendiri dalam soal pendanaan.

Pada perkembangan selanjutnya – yang mestinya dianalisis secara cermat oleh Presiden Soekarno – ternyata kekuatan yang semula dikira progresif dan pro-rakyat itu, tahu-tahu menggalang komitmen kerjasama yang akhirnya menjelma menjadi gudang lawannya. Doktrin "tri upaya cakti" yang mereka agendakan sebetulnya adalah ancang-ancang strategis untuk melawan pemerintahan Soekarno. Dalam hal ini Soekarno kurang mengantisipasi kekuatan faksi-faksi militer yang merongrong, bahkan individu-individu yang lihai dan cerdik, yang terus-menerus mengintai kursi kekuasaan. Ternyata sikap paternalisnya Soekarno yang menganggap bahwa semua militer adalah anak-anak buahnya, kurang sanggup memilah-milah kekuatan progresif di kalangan mereka yang mau diajak kerjasama dalam menyuarakan aspirasi serta menyelenggarakan kemakmuran dan keadilan bagi segenap rakyat.
Kalau saja Soekarno berhasil membangun militer yang progresif dan pro-rakyat, maka sampai sekarang tak perlu masyarakat Indonesia menjadi apatis terhadap militer, berikut slogan-slogan yang diciptakan oleh mereka. Tapi karena disebabkan kelengahan tersebut, para militer kita – khususnya semasa Orde Baru Soeharto – selaku aparat-aparat yang notabene digaji oleh negara dan dibiayai oleh rakyat, justru telah bertindak sebaliknya. Selama puluhan tahun mereka menyelenggarakan ketidakadilan dan kesewenangan yang apabila kelakuan dan kerjaan mereka tiada lain selain merugikan rakyat, maka tentulah mereka akan berhadap-hadapan terus dengan kekuatan rakyatnya sendiri.

Berikut ini penulis kirimkan novel yang sedang ramai menjadi perbincangan publik, berjudul “Pikiran Orang Indonesia”. Novel ini ditulis oleh seorang sastrawan Banten, tentang problem dan lika-liku politik 1965 yang selama ini didiamkan, bahkan sulit untuk dibahasakan. Kini dengan bahasa yang lugas dan sederhana, kita dipandu untuk memasuki memori kolektif kita semua, suatu perpaduan antara fakta dan fiksi yang disampaikan secara apik demi tegaknya nilai-nilai kebenaran bagi bangsa Indonesia…. ***

Ketika Sastra Harus Bicara

Oleh Pujiah Lestari

Masyarakat yang berperadaban tinggi pada prinsipnya sepakat bahwa sastra dan jurnalistik adalah wahana penting untuk membangkitkan umat manusia dari ketidaksadarannya, atau dari “tidurnya” yang panjang. Setiap karya literasi yang baik biasanya menampakkan raut-raut yang sama, mengatasi gaya realisme sosialis, yakni ekspresi psikologis yang kompleks dan kadang-kadang melompat dari gatra satu ke dimensi lainnya. Karya-karya simbolis mereka bukanlah cernaan bahan baca yang ringan, karena pembaca akan ditantang memasuki bermacam-macam lembah yang membutuhkan kedewasaan pandangan yang sangat matang. Artinya, seorang pembaca harus sanggup menilai suatu kejadian dalam sebanyak mungkin dimensi, dan pada akhirnya mampu memetik hikmah kebijaksanaan darinya.

Misalnya karya seorang novelis Banten berjudul “Pikiran Orang Indonesia” (Fikra Publishing, Jakarta, 2013). Kata demi kata berhasil dirajut oleh penulisnya bagaikan “bara api” yang menjebol intervensi rezim yang menghendaki lestarinya status quo. Begitupun dalam cerpennya yang berjudul “Kuli Tinta” atau “Sang Wartawan” (www.ahmadtohari.com) yang menampilkan nilai-nilai humanitas dan kemanusiaan melalui daya imajinasi yang menyibak kabut-kabut dalam kalbu kita selama ini.

Pewartaan literasi yang digagasnya sanggup membuka kedok-kedok yang dengan rapi disimpan dan dirahasiakan rezim penguasa dari masa ke masa. Seperti ungkapan penulisnya yang pernah disampaikan semasa kekuasaan Orde Baru (1995): “Apabila jurnalisme kesulitan untuk menjadi media dalam mengungkap nilai-nilai kebenaran, maka sastra harus berdiri di baris depan!”

Bila kita membuka memori kelam semasa tahun-tahun itu, misalnya pembredelan majalah Tempo, Editor dan Detik. Sebelum itu pun majalah mingguan Jakarta-Jakarta yang dimutasi lantaran melaporkan kerusuhan massal di Santa Cruze, Timor-Timur (1991). Akibatnya hasil reportase yang disiapakan untuk edsisi berikutnya digagalkan oleh rezim. Hingga akhirnya para jurnalis bahkan pemrednya sendiri, Seno Gumira Adjidarma memilih untuk menulis sastra dalam kumpulan cerpennya yang berjudul “Saksi Mata”.

Ya, ketika jurnalisme dibungkam maka sastra harus berani tampil ke depan. Karena pada prinsipnya karya jurnalistik bicara dengan fakta sedangkan karya sastra bicara dengan kebenaran dan hatinurani umat. Meskipun sebuah fakta dimanipulasi bahkan ditutup dengan tinta hitam, tetapi kebenaran akan tetap tampil ke permukaan. Boleh-boleh saja buku sastra dibredel dan diembargo, bahkan oligarki kesusastraan dikuasai oleh rezim pemodal tertentu, tetapi kualitas sastra yang baik akan menyatu bersama udara, menyibak kabut hingga menembus langit.

Seorang pendakwah agama mungkin saja berdakwah secara radikal bahkan ekstrim, tetapi nilai-nilai kebaikan dalam karya sastra harus disampaikan secara lentur dan bijak demi kualitas dan keabadian karya sastra itu sendiri. Di sini kita akan coba mengupas gaya dakwah melalui karya sastra yang tujuan utamanya membikin manusia lebih manusiawi dan beradab. Misalnya pada pada novel “Pikiran Orang Indonesia” (Hafis Azhari) yang bicara tentang ingatan dan memori kolektif masyarakat Indonesia, ketika mentalitasnya dikuasai oleh belitan doktrin dari penguasa diktator yang tak mau peduli pada kemajuan pendidikan dan kebudayaan rakyatnya.

Sang tokoh kemudian menyadari pentingnya pertumbuhan yang layak bagi seorang anak bangsa, agar tidak dikelabui oleh kepentingan politik Orde Baru yang disusupkan ke dalam otak dan memori rakyat. Dengan demikian kebohongan-kebohongan publik yang direkayasa makin tersingkap dengan jelas, agar rakyat Indonesia tidak lagi terjebak untuk menghormati “sang pahlawan” yang sebenarnya tidak layak diberi penghormatan.

Pelajaran apa yang bisa kita petik dari karya sastra yang selalu berpikir multidimensional itu? Bagi para birokrat dan politisi kita yang hobinya pencitraan melulu, mungkin akan tergopoh-gopoh memahami karya sastra yang berdimensi mendalam itu. Berbeda dengan kalangan jurnalis yang sanggup berpikir out of the box. Biasanya mereka rela berjuang dan mengabdikan dirinya kepada umat di luar institusi kasatmata, yang merupakan lambang agama formal. Bagi mereka, yang dipentingkan dari tujuan dakwah adalah membuat manusia menjadi bermoral, beradab dan tercerahkan. Terlepas apakah dakwah itu dalam bentuk opini, reportase, sastra maupun ceramah langsung di masjid dan majlis ta’lim.

Tentu saja seorang jurnalis dan sastrawan yang ikhlas berkarya, jauh lebih mulia ketimbang seorang penguasa diktator yang tega memeras sumber daya alam maupun sumber daya manusia dari rakyatnya. Logika macam apa yang bisa membenarkan seorang penguasa kaya-raya yang dihasilkan dari merusak dan mengeruk sumber daya alam, meskipun dia bersikeras mengkultuskan dirinya sebagai “bapak pembangunan”? Bukankah kekayaan yang dihasilkan dari iklim yang tidak adil, biasanya harta-harta itu adalah buah dari iklim semacam itu. Dan berapa banyak orang yang rizkinya melimpah dan prestasinya meningkat, namun tidak ada titik kebahagiaan dalam hidupnya? Padahal sasaran yang ingin dicapai dari uang dan kesuksesan itu adalah nilai kebahagiaan dalam hidup.

Novel “Pikiran Orang Indonesia” mengajarkan kita bahwa kemuliaan dan keberkahan hidup tak bisa dibayar oleh materi sebanyak apapun. Generasi masadepan harus terbebas dari kepamrihan kaum birokrat dan politisi yang sibuk dalam pencitraan dan kebohongan publik. Tetapi bukankah karya sastra adalah karangan manusia, yang identik dengan kebohongan juga? Ya, tapi seandainya kebohongan itu mesti diciptakan, apakah kebohongan itu bersifat mendidik dan mendewasakan, atau justru mengkerdilkan dan membodohi rakyat? Di sinilah titik persoalannya.

Melalui novel yang semakin hangat menjadi perbincangan publik ini, karakter para penguasa yang mewarisi watak Orde Baru, sangat gampang dipahami. Karena yang seringkali mereka omongkan selalu saja berseberangan dengan prinsip kejujuran yang menjadi syarat multak bagi pemimpin yang adil. Dunia sastra dan jurnalistik biasanya dianggap “subversif” oleh mereka, karena dengannya transparansi dan kejujuran akan disingkap dengan baik, hingga memasuki psikologi manusia yang paling terdalam. Selamat membaca (klik attachment!) ***

– Penulis adalah alumnus Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak, serta aktif di organisasi K2PSI (Kelompok Kerja Perumusan Sejarah Indonesia).

Konstruksi Imajinasi Bangsa

Hafis Azhari

“Seorang penguasa diktator seperti Hitler, Mussolini maupun Jengis Khan, tetap mengakui dirinya tidak berdaulat penuh dalam segala hal. Mereka memiliki kepercayaan adanya hubungan kosmos mikro (dunia fana) dengan kosmos makro (dunia baka) yang dianggap sanggup menjawab ketidakpastian hidup seorang pemimpin.”

Alkisah nun di kala itu, delapan abad setelah masa kekuasaan Ken Arok yang dilegitimasi oleh sebuah sastra (puisi) berjudul “Lubdhaka”, terjadilah peristiwa yang terulang kembali di tanah Jawa, dalam kaitannya dengan sastra yang memiliki kekuatan untuk melegitimasi kekuasaan yang korup dan sewenang-wenang.

Kita paparkan di sini sehubungan masih relevannya kisah Pangeran Diponegoro untuk ditarik ke dalam problem politik kekinian dan keindonesiaan. Dimulai dengan tampilnya Sultan Hamengku Buwono V yang menulis Serat Purwakanda (Kakak Sulung) yang sebetulnya tetap merujuk pada sastra Jawa kuno berjudul “Kanda”. Namun Serat Purwakanda menyatakan diri lebih awal dari naskah “Kanda”, bahkan mengkualifikasi diri sebagai “Purwa” seakan-akan lebih asli dan lebih tua dari “Kanda”.

Naskah sastra ini bertema tentang hal ihwal keturunan yang sah, hingga keterangan silsilah dewa-dewi Hindu dan Jawa yang dihubung-hubungkan dengan Nabi Adam (Islam). Dinyatakan bahwa Sang Hyang Tunggal memiliki empat putera mahadewa (Sang Hyang Puguh, Punggung, Manan dan Samba). Yang paling tampan dan baik di antara mereka adalah si bungsu Sang Hyang Samba, yang kelak dipastikan oleh Sang Hyang Tunggal sebagai kepala para dewata di Suwargodimulyo, meskipun tidak disukai oleh kakak-kakaknya yang saling bersengketa.

Dilukiskan bahwa Sang Hyang Puguh dan Punggung terus bersitegang tak mau damai, maka dihempaskanlah keduanya dari permukaan bumi hingga berwajah buruk rupa. Setelah mereka sadar dan minta ampun mereka pun diampuni tetapi tidak boleh masuk ke Suwargodimulyo. Sang Hyang Puguh dijuluki Togog dan diberi tugas untuk menjaga orang-orang Jawa yang berada di luar negeri, sedangkan Punggung dijuluki Semar dan bertugas menjaga orang-orang Jawa di dalam negeri. Kemudian Samba dinobatkan sebagai kepala para dewata, bergelar Bathara Guru didampingi perdana menteri yang setia (Sang Hyang Manan) yang diberi gelar Bathara Narada.

Di sini nampak siasat politik dari Kerajaan Jawa yang dikendalikan Penguasa Hindia Belanda, menghendaki lestarinya sistem kolonialisme sambil menyelenggarakan keamanan dan ketertiban tanah Jawa (Nusantara), memboyong beribu-ribu gulden dari jerih-payah rakyat jelata yang dikerahkan untuk menghasilkan rempah-rempah maupun buah-buah perkebunan.

Serat Purwakanda yang merupakan dokumen gaib – dalam bentuk sastra itu – jelas mengandung unsur legitimasi tahta kerajaan (kosmos mikro) untuk mengidentikkan Hamengku Buwono V sebagai Sang Hyang Samba. Padahal HB V masih berumur dua tahun pada saat ayahnya wafat (HB IV). Pangeran Diponegoro yang memahami konsep keadilan dari ajaran Islam, tidak berkenan dengan keputusan Belanda menobatkan seorang balita berumur dua tahun menjadi Raja Jawa. Sebab konsekuensinya, yang berkuasa selaku eksekutif adalah sang perdana menteri, siapa lagi kalau bukan Patih Danurejo yang sejak dini memihak segelintir elit penguasa dan bersekongkol dengan pihak Belanda.

Lantas, benarkah Serat Purwakanda adalah hasil ciptaan HB V, ataukah di belakang semua itu pihak penjajah (Belanda) yang bermain? Mungkinkah pihak kerajaan mengerahkan para penulis bayaran sebagaimana para penyair Arab yang dibayar pembesar Qurays untuk menyerang konsep kebenaran dan keadilan yang ditegakkan Muhammad? Bukankah untuk mengibarkan bendera kapitalisme di Indonesia, dana jutaan dollar digelontorkan demi berjalannya progres kebudayaan Barat (melalui CIA) di masa Orde Baru, terutama bagi kalangan seniman dan budayawan yang mau mengabdi pada pesan-pesan neo-kolonialisme dan imperialisme (baca: Dokumen CIA, Hasta Mitra, Jakarta 2002).

Serat Puwakanda bukan saja mengoreksi dokumen sastra Jawa kuno (Kanda) tetapi juga memanipulasi tafsiran Ronggowarsito (Serat Paramayoga) dari istana Surakarta. Karya sastra itu ujung-ujungnya menyampaikan pesan dakwah yang dilegitimasi keraton, bahwa Pangeran Diponegoro identik dengan figur Togog yang berburuk rupa. Sedangkan Sang Hyang Samba mengejawantah dalam diri HB V yang diidentikkan dengan wajah tampan dan baik hati. Kemudian pihak Belanda dan Patih Danurejo, tentu saja dikonotasikan sebagai Semar dan Bathara Narada, karena siapa lagi kalau bukan Semar yang bertugas menjaga orang-orang Jawa di dalam negeri.

Pada masa itu dunia politik, sastra dan religiusitas merupakan satu paket, sebagai pelaksanaan prarencana Tuhan ke dalam layar duniawi. Bagi orang-orang berpenghayatan mistis, seluruh semesta ini dapat mewahyukan diri sebagai sakralitas kosmik. Jadi setiap peristiwa dalam kosmos mikro yang fana ini hanyalah pengejawantahan lakon kosmos makro yang mengatasi kehendak rakyat jelata, dan merupakan takdir yang harus diterima dan ditaati oleh mereka.

Menulis Untuk Keabadian

Kisah yang terungap di atas bukanlah semata-mata dongeng fiktif belaka, tetapi dialami langsung oleh seorang figur Pangeran Diponegoro. Dalam kaitan itu pihak keraton dan penjajah Belanda memang telah memenangkan pertempuran, tetapi pada hakekatnya mereka telah kalah dalam peperangan. Karena Tuhan Maha Adil, dan yang abadi dalam benak sejarah dan memori bangsa Indonesia tak lain adalah sosok sang pahlawan nasional kita, Pangeran Diponegoro.

Dalam alam tradisional Jawa, peran rakyat kawula memang hanyalah sekunder belaka, karena yang dianggap primer adalah kedudukan sang penguasa tadi. Jadi citra manusia tradisional – seperti yang tergambar dalam dunia perwayangan – hanyalah kelir jagad cilik yang berfungsi sebagai bayangan yang dianggap tidak sejati, dan karenanya hanya dapat bergerak berkat peran Ki Dalang (jagad gede). Tidak mengherankan apabila segala peristiwa kekuasaan politik didominasi dan diputuskan oleh sang penentu sejati, serta diniscayakan oleh kehendak Sang Dalang belaka.

Tetapi sudilah para jurnalis, intelektual dan budayawan Indonesia, agar kita terus menggalakkan kreasi-kreasi kita bukan semata-mata untuk kepentingan pasar yang sesaat tetapi berkaryalah terus untuk sebuah keabadian. Karenanya jangan sampai lekang oleh waktu dan jangan lapuk ditelan zaman. Sudah waktunya kita bermuhasabah dan bercermin diri, bahwa konsep kekuasaan feodal dalam piramida tatanan hirarkis selama ini memang bertentangan dengan ajaran monotheisme yang berpijak pada nilai-nilai humanitas dan keadilan sosial. Manusia tidak boleh melupakan nasibnya untuk menikmati kehidupan dunia ini, karena pada prinsipnya rasa syukur dan kenikmatan hidup di dunia adalah senyawa dan merupakan cikal-bakal untuk meraih kemenangan di akhirat nanti. (*)

·        Penulis novel “Perasaan Orang Banten” dan “Pikiran Orang Indonesia”.

Fakta Dan Fiksi Demi Kebenaran

Oleh Indah Noviariesta
(Aktivis Gerakan Membangun Nurani Bangsa, alumni Universitas Tirtayasa, Banten)

Karya-karya Pramoedya Ananta Toer, seperti Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa cukup membangkitkan gelombang kesadaran masyarakat dunia ketiga dari cengkeraman imperialisme dan neokolonialisme, bahkan dari kepentingan ekonomi negeri-negeri industri yang selalu mencari-cari pasar untuk mengorbankan bangsa-bangsa miskin. Lewat perjalanan waktu karya-karya tersebut dinamakan sastra “realisme sosialis”.

Pada prinsipnya Pramoedya sendiri tidak terlampau memusingkan julukan apa yang akan diberikan untuk karya-karyanya. Ia hanya menulis karena suatu keterpanggilan menyaksikan realitas yang ada, dan dengan menulis itu berarti sudah berbuat apa yang bisa diperbuat. Ia menyodorkan kepada khalayak tentang realitas kompleks pada diri manusia mengenai tabiat, karakter dan wataknya. Juga memberikan solusi tentang apa yang sebenarnya, dan apa yang sebaiknya dilakukan terhadap sesamanya.

Karenanya karya semacam itu dapat digolongkan sebagai sasta yang bersifat multi-religi, bicara tentang manusia dan kemanusiaan secara universal. Ia beritikad membuka mata hati pembaca untuk menyoal ketidakadilan yang seringkali dimanfaatkan para politisi sebagai motor penggeraknya. Ia pun menggugat kepentingan imperialisme dan neokolonialisme yang pada hakikatnya adalah kepanjangan tangan dari sistem penjajahan yang menghendaki lestarinya eksploitasi manusia atas manusia lain.

Tentu saja ada penulis yang serampangan menilai secara hitam-putih belaka, mudah menggeneralisir masalah, hingga dengan nekat menjuluki karya Bumi Manusia maupun Pikiran Orang Indonesia sebagai sekularisme. Tetapi siapa pula yang menyangsikan karya sastra yang bicara tentang nasib ribuan Marsinah, Wiji Thukul dan ribuan Udin Syafrudin, yang berjuang menuntut hak-haknya sebagai karyawan dan kuli tinta, lantas digolongkan sebagai sastra sekularisme yang tidak Islami. Kritik sastra semacam itu terlalu prematur dan terlalu mengada-ada, di saat orang itu belum sempat mengetahui duduk perkaranya, belum sempat mengadakan penelitian secara seksama, bahkan ironisnya, belum sempat membaca isi buku tersebut secara utuh dan menyeluruh.

Dalam novel Pikiran Orang Indonesia disampaikan tentang lika-liku perpolitikan Indonesia di seputar tahun 1965, tentang masyarakat dalam suatu republik merdeka yang terbelenggu oleh doktrin-doktrin penguasa dengan memahami istilah politik sesuai tafsirannya. Hingga sang penguasa berhasil mengkultuskan dirinya sebagai "bapak pembangunan". Tapi dalam perjalanannya ia tak sanggup menafsirkan pesan-pesan yang tersirat dalam ajaran setiap agama Samawi, bahwa membunuh satu orang tanpa alasan yang benar, sama artinya dengan membunuh seluruh umat manusia (QS. Al-Maidah: 32).

Masih teringat dalam memori kita bagaimana lihainya kekuasaan itu meluncurkan istilah "Gestapu" untuk menuding pelaku peristiwa G30S. Tujuan politik dari teknik permainan itu sangat jelas, yakni suatu dampak psikologis yang disusupkan  ke dalam pikiran rakyat, agar mereka menyejajarkan peristiwa itu dengan konsep "Gestapo" dari partai Nazi Jerman.

Setiap orang yang mengasah nuraninya akan kepekaan sejarah, dapat memahami betapa teknik propaganda ini telah berabad lalu diciptakan manusia, yang biasanya dimanfaatkan sekelompok angkatan perang guna mengungkap gambaran-gambaran sang musuh sebagai penitisan kebejatan, membeberkan lambang mengenai penderitaan manusia, bahkan penyebab dan asal-mula kekejian dan pembantaian, sejak kekuasaan diciptakan sampai kapanpun ia sanggup mempertahankan kebohongan yang dibuatnya.

Tak perlu diherankan mengapa di awal-awal kekuasaannya, Soeharto – selaku kepala Kostrad – mengadakan aksi-aksi terobosan untuk mengambil-alih RRI dan kantor telekomunikasi yang letaknya di jalan Medan Merdeka (seberang kantor Kostrad). Setelah itu berkumandanglah peristilahan negatif diciptakan secara serentak, dari kata G30S/PKI, Kopkamtib, Museum Lubang Buaya, Gerakan Pengacau Keamanan, Organisasi Tanpa Bentuk, Ekstrim Tengah dan seterusnya. Segala akronim dan peristilahan itu tentu bukan tercetus dari orang-orang bodoh yang sama sekali tak punya harapan akan masadepan, namun ia telah keluar dari pikiran dan gagasan jitu (namun berhati jahat) dari seorang ahli strategi, demi suatu agitasi dan propaganda yang sudah dirancang sedemikian canggihnya (baca: Bahasa Politik Bung Karno dan Jenderal Soeharto, Hasta Mitra, Jakarta 2002).

Pada hakikatnya “provokasi” atau “indoktrinasi”, selama hal itu bertujuan baik dan mulia termasuk bagian dari amr ma’ruf dan nahi munkar yang merupakan prinsip seorang beriman. Karena itu suatu agitasi propaganda untuk suatu gerakan revolusioner memang diperlukan. Bung Karno pernah menyampaikan pesan politiknya bahwa, lebih baik "banyak bicara dan banyak bekerja" daripada "sedikit bicara banyak bekerja". Karena setiap pekerjaan mulia dalam menegakkan kebenaran, dibutuhkan bahasa ungkapan untuk disampaikan ke publik, bahkan sebagai perlawanan dan penggugah kesadaran akan adanya ketidakadilan.

Dengan kepiawaian berpidato, serta kecermatan dalam merangkai kata Soekarno telah sanggup menggugah kesadaran jutaan rakyatnya, yang membuat mereka tersentak dan bangkit dari keadaan nasibnya sebagai bangsa-bangsa terjajah. Setelah peristiwa G30S, dia memilih istilah Gestok (Gerakan Satu Oktober) daripada istilah Gestapu (Gerakan September Tigapuluh) yang dibuat-buat Orde Baru. Secara kesejarahan dapatlah dimengerti bahwa peristiwa itu sudah melewati jam 24.00, yang berarti sudah memasuki tanggal 1 Oktober 1965. Selain itu secara kebahasaan tidaklah kalah pentingnya, karena susunan kata yang dipakai dalam sistem penanggalan kita adalah, kata yang diterangkan mendahului kata yang menerangkan. Jadi tepat sekali, bila anakronisme itu hendak diciptakan mestinya "Tigapuluh September" dan bukan "September Tigapuluh".

Karena itu berhati-hatilah ketika ada seorang jenderal bermental fasisme menuduh komunisme-marxisme-leninisme, karena belum tentu dia paham apa maksudnya, ketimbang seorang Guru Besar Sosiologi mengajarkan matakuliah Marxisme di kampus perguruan tinggi. Kita pun masih ingat pula akronim "Jas Merah" yang dicetuskan langsung oleh Bung Karno, yang berarti "jangan sekali-kali meninggalkan sejarah". Dengan kecermatannya berbahasa, Soekarno cukup peka dan tanggap dalam menciptakan suatu peristilahan, yang membawa kita pada bayangan pasukan kemeja merah Garibaldi, seorang pemimpin revolusi liberal yang berjuang memerdekakan rakyat Italia pada tahun 1830-an.

Tetapi kemudian di negeri ini, teknik propaganda yang bercita-cita mulia itu telah diambil-alih oleh klik kepentingan penguasa totaliter, dengan kembali mengamalkan pola-pola yang dipakai Hitler, Jengis Khan, Franco hingga Musollini, dipraktekkan kembali oleh seorang jenderal bekas tentara KNIL yang pernah mengabdi pada pendudukan Belanda. Teknik propaganda itu dimanfaatkan untuk kepentingan beberapa gelintir elit penguasa yang menghendaki program-program Amerika – dan negeri-negeri industri – berjalan mulus di bumi Indonesia selama 32 tahun, dan terus mengepung keseharian kita hingga hari ini.

“Sepulang dari tahanan politik di Salemba, saya merinding menyaksikan visualisasi kreatif Orde Baru, dengan membikin-bikin cerita tentang adanya kaum wanita yang menari-nari mengelilingi mayat para jenderal. Badan saya merinding bukan lantaran kreatifitas mereka, tapi karena tak pernah menduga mengapa ada manusia Indonesia tega memfitnah saudaranya sendiri, serta membikin-bikin kebohongan sebegitu kejinya!” demikian pernyataan Joesoef Isak, mantan sekjen Persatuan Wartawan Asia-Afrika, mantan pemred Merdeka, bersama ratusan wartawan lainnya yang pernah ditapolkan oleh penguasa Orde Baru.

Sebagai penutup tulisan ini, saya akan kirimkan (attach) novel berjudul PIKIRAN ORANG INDONESIA, setelah beberapa waktu lalu saya mendapatkan izin dari penerbit dan penulisnya (Hafis Azhari). Bagi yang ingin menampilkan novel ini dalam media yang Bapak/Ibu pimpin, justru kami ucapkan terimakasih, karena kami meyakini bahwa kebaikan yang disampaikan kelak akan berbuah kebaikan yang berlipatganda, sebagai balasan bagi orang-orang yang konsisten dan sabar dalam memperjuangkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan, selamat membaca…. ***

JIKA AKU CALON BUPATI (Wahana Introspeksi Diri)

Oleh Pujiah Lestari – Alumni Ponpes Al-Bayan, Rangkasbitung, Lebak, Banten

Banyak yang telah kupelajari perihal kiat-kiat menjadi penguasa daerah. Cukup banyak strategi kekuasaan yang dapat menjadi acuan, hingga apa yang menjadi puncak harapanku bisa tercapai dengan mulus. Aku membaca kiat-kiat Machiavelli tentang teori mengambil-alih kekuasaan, tapi lebih detil lagi yang diajarkan Penguasa Orde Baru yang menyebar di internet akhir-akhir ini, dengan tema yang sangat interesan: “Catatan Harian Seorang Mantan Presiden”.

Hal yang penting menggugah pikiranku adalah pemanfaatan media, agar lebih memperkenalkan diri di tengah masyarakat. Akan kupersiapkan anggaran khusus agar sebaran di tengah masyarakat kian merata, misalnya pembuatan kalender, spanduk, banner hingga baliho berukuran raksasa. Untuk suatu desa yang dipandang perlu penyediaan media yang lebih besar lagi aku pun akan mempersiapkan alokasi dana yang ditujukan untuknya.

Pengadaan ribuan kaos yang sesuai dengan warna favorit dari partai pengusungku, adalah trik yang sudah lama namun masih tetap valid. Ribuan kaos itu akan kubagikan untuk kalangan pemuda, pemilik warung, tukang ojek, sopir angkot hingga ibu-ibu pengajian. Sedangkan untuk menjangkau kalangan menengah ke atas harus kupersiapkan anggaran khusus untuk pembuatan iklan di media cetak hingga elektronik. Kalau perlu akan kutambah biaya tersendiri untuk perpanjangan masa tayang, baik melalui radio maupun televisi lokal.

Sebagai pemangku tunggal dari hajat politik ini, tentunya aku sendirilah yang akan mempersiapkan pendanaan itu, bahkan aku sendiri yang menjadi penanggungjawab setiap penyelenggaraan acara. Misalnya acara seminar, talk show, silaturahmi, hingga sambutan di kalangan ibu-ibu pengajian. Karenanya akan kupersiapkan orang berpengalaman yang menjadi juru bicara, hingga event organizer untuk membentuk kepanitiaan. Tentu saja para peserta tidak mungkin hadir pada acara-acara tersebut dengan gratis, manakala tidak dipersiapkan anggaran khusus untuk biaya transportasi, konsumsi, akomodasi dan seterusnya.

Supaya muncul kesan seolah-olah aku adalah calon pemimpin yang loyal dan dermawan, akan kupersiapkan anggaran tersendiri untuk pemasangan paving block pada beberapa gang di kampung-kampung yang merupakan pendukung setiaku. Jika ada yang mengusulkan pemberian santunan bagi kaum miskin, orang jompo, pembangunan gardu ronda  hingga rehabilitasi langgar dan mushola, aku pun harus bersedia untuk memenuhinya. Kalau perlu aku akan kerjasama dengan PMI atau Ormas Kepemudaan untuk acara pengobatan massal hingga donor darah.

Jikapun saat ini dana mahar dipersoalkan, dan memang tidak ada partai politik yang terang-terangan menentukan jumlah biaya mahar, tetaplah dana untuk itu harus kupersiapkan. Mereka akan menyiasati hal tersebut dengan cara pengadaan survey, sebagai modus operandi untuk menyiasati publik. Biarlah kumaklumi saja, meskipun dana untuk biaya mahar ini terlampau besar. Karena toh mereka sudah lihai dengan pola-pola siasat yang telah kurancang, dan loyalitas mereka pun tiada lain hanya ditujukan untuk uang dan kekuasaanku.

Lantas, untuk menyiasati loyalitas mereka agar tidak berpaling ke “lain hati”, akan kuprioritaskan tim inti yang berbaris di bangku depan, kutambahkan bonus-bonus tertentu, agar tidak lirik sana lirik sini seolah-olah rumput tetangga lebih hijau ketimbang rumput di halaman rumahku.

Kini yang menjadi batu sandunganku, munculnya berbagai opini yang menyudutkan bahkan menentang pencalonanku nanti, misalnya artikel yang ditulis Nurul Fauziyah, M. Zakaria, Sulaiman Djaya, Irawaty, Encep Abdullah, Noviariesta, Kiai Chudori hingga Hafis Azhari yang pernah menulis wacana bertajuk “Hasrat Penguasa Mengukir Sejarah”. Kalau tidak salah, dia itulah yang pernah menulis sebuah novel “Pikiran Orang Indonesia” yang peluncurannya diadakan di beberapa pesantren dan kampus perguruan tinggi. Sebagai calon penguasa daerah aku tak mau berurusan dengan dunia sastra, literasi maupun tetek-bengek tulis-menulis. Dan setalah aku berkuasa nanti, biar sajalah dunia seni dan sastra berkembang sendiri, biar mengais-ngais berkalang tanah sekalipun.

Mengingat problem yang serius ini kelak akan kususun kepanitiaan agar melobi kalangan penulis agar menyatakan pemihakannya dalam rubrik-rubrik opini. Kalau perlu kusediakan anggaran khusus untuk merekrut kalangan jurnalis dan pemred-pemred harian se-Banten. Sekali lagi “se-Banten”. Bahkan untuk membeli halaman khusus opini di seluruh koran-koran adalah alternatif penting yang harus kuperhitungkan. Bagiku mudah sekali menjangkau hal tersebut, baik secara finansial maupun lobi-lobi politik yang kelak kuagendakan. Bahkan kalau perlu akan kukerahkan para seniman lokal agar berkoar-koar menyatakan dukungannya kepadaku.

Pada momentum Ramadhan seperti ini, perlu juga dimanfaatkan orang-orang yang dianggap terpandang, misalnya seorang ustadz yang sanggup mengumpulkan ribuan massa untuk mengadakan tabligh akbar maupun istighosah kubra. Bukan perkara gratis untuk mengadakan semua itu, karenanya aku pun harus menyediakan anggaran bagi para pendakwah dan mubaligh yang kelak memimpin acara tersebut. Tentu saja konsumsi maupun transportasi untuk para hadirin yang diundang memerlukan anggaran tersendiri.

Tetapi yang membikin aku harus punya perhitungan adalah munculnya novel berjudul “Perasaan Orang Banten” yang kabarnya ditulis oleh seorang lulusan UIN Jakarta yang sebelumnya mondok di pesantren Daar El-Qolam pimpinan K.H. Rifa’i Arief. Kabarnya novel tersebut bicara banyak tentang seluk-beluk perpolitikan Banten maupun Indonesia. Kalangan penulis begitu geger menyoal hal tersebut, baik yang menilai positif maupun negatif, dan tentu saja pilihan yang kedua aku harus menentukan pemihakannya.

Belakangan ini semakin bermunculan opini-opini miring berjudul “Ramalan Budaya Menggelinding”, “Sastra Mendahului Zamannya”, bahkan cerpen berjudul “Poliisi Tua” hingga “Wafatnya Tokoh Politik”. Ada apa ini? Ada persoalan apa di Banten ini? Apakah kiamat semakin nampak di depan mata? Bagaimana aku harus memuluskan langkah-langkahku mencapai cita-cita tertinggi untuk menggapai keberhasilan dalam hidup?

Tapi kini aku tersentak kaget saat mendengar wejangan dari seorang Kiai Sufi Banten, bahwa sukses duniawi tidak menjamin adanya hidup tenang dan damai. Kedudukan dan harta melimpah sama sekali tidak identik dengan rizki yang berkah. Seberapa banyak orang kaya berkedudukan namun hidupnya sengsara, tapi tidak sedikit juga orang yang hidupnya sederhana namun selalu ia diliputi oleh ketenangan dan kebahagiaan.

“Kalaupun tidur yang nikmat itu bisa dibeli dengan harga kasur yang paling empuk dan mahal, mestinya para politisi dan penguasa itulah yang bisa menikmati itu, tapi nyatanya tidak!” tandasnya.

Bahkan setelah berulang kali aku membaca novel “Perasaan Orang Banten” dari seorang relawan Rumah Dunia, betapa aku mempelajari bahwa perkara politik-praktis bukanlah satu-satunya yang substansial untuk membangun peradaban umat. Sungguh menggelikan permainan calon penguasa itu, terutama ketika aku membaca bab 13 halaman 113, bahwa mereka merasa senang dan bangga ketika orasi politiknya dihadiri ribuan pengunjung yang memadati lapangan kampanye. Padahal mereka-mereka itu datang bukanlah inisiatif pribadi, namun karena dibayar oleh sang pemangku hajat. Ironis sekali, bukan?

Pada akhirnya, aku pun harus berpegang pada prinsip yang diajarkan Rasulullah, bahwa beliau menganjurkan umatnya agar sanggup mengendalikan keinginan dan hawa nafsu, bukan merancang berbagai tipu muslihat agar meraih segala hasrat dan keinginan duniawi. Bagaimanapun seorang pemimpin harus berpikir dan berjiwa lapang. Jika pikirannya dangkal dan sempit ia akan mudah terombang-ambing oleh emosi hingga memutuskan segala kebijakan secara tidak adil dan sewenang-wenang. ***

Ahmad Tohari: Tema Alam dan Kearifan Lokal Pedesaan

Saudara semua, ini ada artikel dari http://annida-online.com/, silakan anda telaah secara bijak.

Ahmad Tohari adalah salah satu sastrawan besar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia saat ini. Para pengamat sastra mengakui bahwa karya-karyanya mempunyai nilai sastra yang sangat kental dan tinggi. Oleh karena itu, banyak karyanya telah diteliti oleh para akademisi – baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Bahkan, karya-karya beliau juga telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing, seperti bahasa Jepang, bahasa Jerman, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris.

Penulis teringat dengan komentar dari beberapa pengamat. Sebagaimana dimuat di Majalah Tempo, 19 Februari 1983, Sapardi Djoko Damono mengatakan, “Dibandingkan dengan Kubah, novelnya yang terdahulu, Ronggeng Dukuh Paruk menunjukkan bahwa Ahmad Tohari bisa sangat lancar mendongeng. Seperti juga dalam Kubah, latar, peristiwa, dan tokoh-tokoh yang terdiri atas orang-orang desa yang sederhana digambarkannya dengan menarik, bahkan tidak jarang, sangat menarik”. Dr. H. J. M. Meier juga mengungkapkan, “Suatu kisah yang disajikan dengan cara yang menggugah perasaan ingin tahu, suatu masalah yang bagi kita pun sangat lazim. Tetapi yang paling mengasyikkan dari kesemua itu adalah gambaran tandas yang berhasil dibangkitkan Ahmad Tohari, yang mengikis khayalan indah kita tentang kehidupan pedesaan di Jawa” (Orion, April 1984). Kedua komentar di atas merupakan sebuah testimoni positif dari Sapardi dan Meier terhadap novel trilogi Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk.

***

Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri dari pengalaman hidup kedesaannya. Maka dari itu, warna hampir semua karyanya adalah menceritakan tentang lapisan bawah dengan latar alam, mulai dari Kubah, Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Di Kaki Bukit Cibalak, sampai pada Lingkar Tanah Lingkar Air. Beliau memiliki kesadaran dan wawasan alam yang sangat luas, sebagaimana terlihat jelas dalam tulisan-tulisannya.

Seperti halnya yang pernah beliau tulis dalam sebuah makalah ketika saya menghadiri Silaturrahmi Nasional Forum Lingkar Pena (Silnas FLP) di Jakarta, 11-13 Juli 2008 lalu, Beliau menulis begini, “Barangsiapa tidak menjenguk tetangga yang sakit, nerakalah akibatnya. Secara luas tetangga yang sakit bisa diartikan sebagai kaum dhuafa, kaum miskin, kaum yang tertindas, dan terpinggirkan yang ada di mana-mana. Nah, merekalah sumber tenaga kreativitas saya karena pada merekalah pemikul-pemikul alamat ke mana saya bisa mendekatkan diri kepada Allah dan memberi ujud taqarrub ila Allah secara konkret. Dengan demikian, mudah dipahami mengapa dalam seluruh karya saya terlihat penghayatan dan pembelaan terhadap masyarakat bawah”.

Boleh jadi karena rasa ketertarikannya dengan keaslian alam, maka Ahmad Tohari tidak betah hidup di kota. Jabatannya dalam staf redaksi kelompok Merdeka, Jakarta, yang dipegangnya selama dua tahun akhirnya ditinggalkannya. Kini dia kembali berada di tengah sawah di antara lumpur dan katak, di antara lumut dan batu cadas di desanya.

Secara tidak langsung, karya sastra mempunyai fungsi sosial yaitu mentransfer informasi dari penulis kepada para pembaca (masyarakat umum atau khalayak). Dengan tulisan-tulisan dari para penulis, para pembaca dapat mengetahui tentang suatu informasi atau peristiwa tertentu yang belum diketahui oleh mereka.

Selain itu, karya sastra juga berfungsi memengaruhi perasaan para pembacanya. Oleh karena itu, sangat diperlukan kontribusi yang maksimal dari para penulis untuk menyampaikan pesan-pesan yang positif kepada para pembaca karya-karyanya agar memberikan teladan yang baik kepada masyarakat luas.

Dengan demikian, sesuatu yang dilakukan oleh Ahmad Tohari melalui karya-karyanya sudah memberikan pesan moral yang positif dan sangat berharga bagi para pembaca, terutama bagi “orang-orang atas”. Karya-karyanya telah menyebarkan informasi kepada para pembaca mengenai pentingnya bersikap tenggang rasa dan toleransi kepada masyarakat bawah (orang miskin). Sebagaimana telah diketahui bahwa pengorbanan masyarakat bawah tersebut begitu menggebu-gebu dan sangat mengharukan. Akan tetapi, yang tampak di masyarakat dewasa ini, ada beberapa golongan masyarakat yang tidak peka kepada mereka, seolah-olah tidak peduli dengan kehadiran mereka di lingkungan sekitar kita. Dengan karya sastra, semoga dapat memberikan kesadaran transenden kepada masyarakat luas, khususnya kepada orang-orang atas, mengenai hadirnya masyarakat bawah di tengah-tengah kita selama ini. Semoga dapat memberikan kesadaran kepada mereka bahwa berbagi dengan sesama itu sungguh indah.***************

Andrea Hirata Seyogianya Belajar Pada Ahmad Tohari

Oleh Agus Pribadi

Membaca polemik antara Damar Juniarto dengan Andrea Hirata di berbagai media. Saya menjadi teringat pada polemik antara F Rahardi dengan Ahmad Tohari di majalah Horison pada tahun 1984 lalu, berarti 29 tahun sebelum polemik yang akhir-akhir ini sedang hangat itu. Perbedaannya, Ahmad Tohari membalas tulisan F Rahardi dengan tulisan juga. Sementara Andrea Hirata berencana melakukan gugatan hukum atas tulisan Damar Juniarto tersebut, sebagaimana diberitakan berbagai media. Padahal menurut saya F Rahardi lebih pedas dalam memberi kritik daripada Damar Juniarto. Membaca kritik F Rahardi, kuping saya terasa merah. Saya tak bisa membayangkan bagaimana dengan penulisnya sendiri, yakni Ahmad Tohari. Namun Ahmad Tohari tetap tegar, ia membalas tulisan F Rahardi dengan tulisan yang dimuat juga di majalah Horison pada tahun yang sama.

Kritik tajam F Rahardi berjudul “Ronggeng Dukuh Paruk : Cacat Latar yang Fatal”. Saya tidak bisa membayangkan kalau saya yang mendapat kritik itu. Namun Ahmad Tohari tetap tegar. Dan terbukti Novel Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk tetap digemari sampai saat ini, diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, dijadikan bahan penelitian, dan difilmkan.
Ahmad Tohari membalas kritikan F Rahardi dengan tulisan dan salam, berjudul “Kecongkakan Akademik Dalam Kritik Sastra Salam buat Pak Guru Biologi”. Di sinilah pengedepanan kepenulisan Ahmad Tohari menggunakan olah kata juga untuk menanggapi kata-kata. Bukannya berencana melakukan langkah lainnya.

F Rahardi kembali menanggapi tulisan Ahmad Tohari dengan judul “Masih Sekitar Ronggeng Dukuh Paruk Hantam Kromo Bikin Keqi”. Ini seperti sebuah pertarungan kata-kata dua pendekar menulis. Bertarung dengan kata-kata, dan pembaca yang akan menilainya.

Tulisan-tulisan tersebut dapat dibaca di :

Karya Ronggeng Dukuh Paruk sendiri terlahir dari kritik atas Novel Kubah, karya sebelumnya yang ditulis Ahmad Tohari. Bukannya larut dalam kritik, Ahmad Tohari membuktikannya dengan berkarya yang lebih baik lagi.

Belajar pada Ahmad Tohari.
Dalam menghadapi kritik, seyogianya Andrea Hirata belajar pada Ahmad Tohari. Seyogianya Andrea Hirata menulis tanggapan atas tulisan Damar Juniarto di Kompasiana, atau media lainnya. Seiring dengan itu, lebih baik Andrea Hirata sibuk menulis dan menulis lagi untuk karya yang lebih baik. Dan biarkan pembaca yang menilainya. Sebagaimana Ronggeng Dukuh Paruk, saya yakin Laskar Pelangi akan tetap bersinar.
Dalam membaca tulisan, termasuk tulisan Damar Juniarto, saya yakin pembaca akan cukup dewasa dalam merespon dan menyikapinya. Karya Andrea Hirata tidak akan tenggelam begitu saja hanya karena sebuah kritik. ****

Diambil dari artikel di http://media.kompasiana.com/

Sisi Lain Sosok Ahmad Tohari


Nama Ahmad Tohari sebagai seorang sastrawan sudah lama dikenal. Kreativitas dan produktivitasnya dalam berkarya sungguh layak dikagumi. Puluhan novel, ratusan cerpen, dan berbagai tulisan genre nonfiksi sudah lahir dari tangannya. Sosok Ahmad Tohari sesungguhnya tak hanya menarik dibicarakan berdasarkan karya-karyanya, tetapi juga kesantunan dan kesederhanaan gaya hidupnya. Ia dikenal sangat alergi terhadap simbol-simbol feodalisme dan kapitalisme yang konon sudah demikian kuat membelit sendi-sendi kehidupan bangsa. Sungguh beruntung saya bersama beberapa pengurus Agupena Jawa Tengah yang lain bisa sedikit ngobrol dengan novelis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Jentera Bianglala, dan Lintang Kemukus Dini Haridi sela-sela acara menjelang seminar nasional yang digelar di LPMP Semarang pada hari Kamis, 25 Juni 2009, itu.

Ahmad Tohari sebagai Juru Bicara

Ahmad Tohari adalah sebuah nama yang menggugah kita pada kesadaran tentang pentingnya “suara lokal”. Ahmad Tohari memahami posisi dan fungsinya, sehingga menempatkan dirinya sebagai juru bicara. Dalam hal ini, Ahmad Tohari adalah juru bicara masyarakat Banyumas di panggung kesusastraan Indonesia dan global.

Oleh Iryan Ali Herdiansyah-Alumnus UGM Jurusan Sejarah

Sebagian besar sejarah literatur kesusastraan Indonesia “melupakan” angkatan 1957. Dalam hal ini, jarang orang yang mengakui hasil dan sepak terjang orang-orang yang ada di dalam angkatan tersebut. Barangkali kalah besar dengan gaung angkatan 1945 dan angkatan 1966. Karena itu, orang kurang mengakui, dan lebih melupakan. Padahal, ide besar yang digagas oleh kelompok angkatan ini merupakan fondasi penting dalam wacana kesusastraan Indonesia. Apabila angkatan 1945 dan 1966 melahirkan nasionalisme kosmopolitanisme, maka angkatan 1957 memunculkan gagasan garis tengah.

Akulah Penggemar Gelapnya

Ditulis oleh Sayono Eljawie-www.nusantaracentre.org


Waktu itu, tahun 1991, ketika sedang memilih-milih buku yang akan kupinjam di perpustakaan sekolahku, kudapati ada novel yang menarik hatiku untuk membacanya.  Sebuah novel dengan judul Ronggeng Dukuh Paruk. Aku tertarik karena judul itu mengingatkanku pada masa kecilku yang sering menonton reog atau lengger. Sebuah tontonan musik khas Banyumasan. Disebut juga calung Banyumasan, karena alat musiknya didominasi oleh alat musik yang namanya calung. Penyanyinya, yang juga menari disebut lengger atau ada sebagian yang menyebutnya ronggeng. Inilah yang membuatku penasaran untuk membaca novel tersebut.

Novel tersebut sebetulnya tak begitu tebal, namun ketika kubaca, seakan aku dibawa masuk dalam alam Dukuh Paruk, di mana berisi tentang kesahajaan dan keluguan masyarakat kampung tersebut. Sebuah kampung yang masyarakatnya masih sangat kuat memegang adat dan budaya peninggalan leluhur mereka, Eyang Secamenggala, yang dipercaya selalu ngawat-awati anak cucunya. Kampung yang seakan terisolir dari dunia luar, dengan masyarakat yang hidup apa adanya.

Ahmad Tohari dan Sastrawan Lainnya


Ditulis oleh M. Yudhie Haryono 
CEO PT Nusantara Bakti Yuda

Ketika kesengsaraan dan kehancuran rakyat terjadi, mereka taka da. Di negeri yang minus kepemimpinan dan keteladanan ini, para sastrawan sering lari sembunyi di balik gemerlap media. Mereka menjadi artis pemuja uang, pelaksana liberlisme yang saling menggigit di antara sesama
memang mereka berkata, “kami adalah potret sekaligus kisah. Tetapi, fungsi kami jelas: menjelaskan revolusi Indonesia”

Tak ada sihir di dunia kami/apalagi mukjizat/padahal/yang kami hadapi adalah begundal/tukang tipu/pengobral janji/
Tak ada dentuman dalam hidup kami/apalagi kredo besar/
yang jahat makin kuat/yang jujur makin hancur/
Tak ada asa dalam usia tua/apalagi takdir membiru/
kami tahu/republik tak dapat ditiru/

Tak ada bangsa merdeka yang alpa dari sastra. Tak ada perubahan besar yang absen dari puisi dan lagu-lagu perjuangan.  Sastra: lagu dan puisi adalah potret diri: cermin dari yang terbaik sampai terburuk. Dari yang pemberani sampai pecundang. Dus, mempelajari sastra adalah mempelajari perang genetika, perang sejarah, perang pemaknaan dan perang pewarisan. Singkatnya, membuat sastra adalah membuat kemenangan agar dibaca anak-cucu kelak. Terlebih, Indonesia adalah tanah subur karya-karya sastra besar: negarakertagama, sutasoma, kidung para wali, kakawin, nagabumi, pararaton, darmogandul, sawerigading, la galigo.

Dan, Ahmad Tohari Mengapa?

Redaksi www.ahmadtohari.com

Ini pertanyaan tak penting tetapi subtansial. Tentu, di samping ada jawaban subtansial, hadir juga jawaban emosional, sentimental dan bahkan nostalgik. Emosional karena sebagai sesama warga Banyumas, kami tak paham benar pada awalnya siapa beliau. Tidak ketemu, tidak berguru, tidak hirau dan tak membaca karya-karyanya. Padahal pribadinya luar biasa. Dan, karya-karyanya sudah sangat mendunia. Bahkan lebih banyak karyanya dibaca warga dunia daripada warga Indonesia, apalagi warga Banyumas kampung halaman kami. Di sini, kami menjadi maling kundang yang durhaka jika sikap jahiliyah ini diteruskan.

Di zaman ketika angka dan rupa dipuja, kami menjadi sangat sentimental karena bertanya, “di mana ada orang tua yang uswah khasanah agar dapat dijadikan contoh generasi muda supaya tak mati sebelum waktu kematian.” Pertanyaan subtansial ini hadir karena akhir-akhir ini karakter kita semua sebagai bangsa remuk dilahap api cikeas yang membabi buta: menjadi angkara murka dan membohongi kita semua. Pada sosok Kang Tohari (dan Buya Syafii Maarif) kami temukan panutan itu. Padanya melekat sikap nilai dan subtansi santri Pancasilais yang tak perduli puja-puji dan gemerlap dunia. Padanya kami menemukan sikap menungso (yang uripe kanggo urup), homo pancasilais, mengedepankan the will to meaning. Yang mengajarkan ada kebahagiaan dan kewarasan di luar uang dan uang.

Seven Habits Ala Kang Tohari

Ditulis oleh Nurhidayat

--Ahmad Tohari, Budayawan sederhana yang mendunia. Meneladaninya adalah kewajiban kita, memuliakannya adalah wujud bakti kita kepada budaya Banyumasan--

Dan, aku kaget, terbangun dari mimpi indahku. Lalu kucari sumber suara yang mengagetkanku. Ternyata suara itu bersumber dari alarm. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Ternyata memang sudah saatnya bangun dan menulis. Menulis laku kita, menulis dalam rangka membunuh keegoisan dan membangun kepedulian. Menulis untuk melawan kekejaman kekuasaan, menulis sebagai “ritualnya santri modern”. Menulis agar kita makin cerdas membaca tanda.

Lalu, apa yang harus kutulis? Aku jadi teringat pesan singkat kemarin sore dari Yudhie Haryono, kangmasku inspirasiku. “Kamu harus latihan menulis, coba tulis tentang Ahmad Tohari, tak usah ambisi, cukup satu lembar saja, yang penting kamu bisa”. Muncul pertanyaan di benakku, Ahmad Tohari, seorang tokoh kelahiran Tinggarjaya Banyumas yang sangat fenomenal itu. Apa iya menulis tentangnya bisa hanya dibuat satu lembar? Sedangkan bertemu dengannya sesaat saja, aku sudah seperti ngangsu kawruh, ngaji bertahun-tahun. Bahkan ilmu itu belum pernah aku dapatkan dalam lima setengah tahun aku “makan” bangku kuliah. Dengan mengenalnya aku jadi paham bahwa ilmu memang tak ada matinya. Benar kata Tuhan, “sesungguhnya jika kau menulis ilmu dengan tinta air laut, niscaya sudah mengering laut itu, dan ilmu pengetahuan itu belum habis kau tulis”. Tapi, ya sudah lah, mari menulis…

Ahmad Tohari, seorang novelis, budayawan, santri, kyai, pendidik, dan masih ribuan title lain yang bisa disematkan padanya. Dia seorang yang luar biasa. Luar biasa sebagai manusia biasa tentunya, tapi tak pernah merasa luar biasa. Karenanya dia makin luar biasa. Oleh sebab itu aku menulis “Meneladaninya adalah kewajiban kita”, dalam catatan pembuka tulisan ini. Lalu, kira-kira apa yang harus kita teladani darinya?

Manfaat Crystal-X

Toko Kirana

Cari Loker Disini


Popular Post

PRODUK UNIK JANGAN DI-KLIK
Copyright © 2013 Ahmad Tohari Pages . All rights reserved.. Powered by Blogger.